Ancaman El Nino Godzilla Berpotensi Kerek Harga CPO

Smallest Font
Largest Font

Potensi kemunculan fenomena cuaca ekstrem El Nino Godzilla diperkirakan menjadi katalis utama pendorong kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO), meskipun berisiko menekan volume produksi perkebunan sawit nasional pada masa mendatang, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Rabu (19/8/2026).

Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) memproyeksikan probabilitas terjadinya El Nino kategori sangat kuat mencapai 81 persen pada Oktober hingga Desember 2026. Angka tersebut meningkat tajam dari proyeksi periode Mei yang sebesar 33 persen dan Juni sebesar 62 persen.

Peluang bertahan fenomena cuaca yang dijuluki pelaku pasar saat fenomena Super El Nino 2015-2016 ini mencapai 97 persen hingga awal 2027. BMKG memperkirakan musim kemarau 2026 berjalan lebih panjang dan lebih kering dibandingkan rata-rata kondisi normal 30 tahun terakhir.

Dampak terbesar akibat kekeringan pada tanaman sawit tidak terjadi secara langsung, melainkan membutuhkan jeda waktu. Puncak penurunan volume produksi baru diproyeksikan terlihat pada 2027 karena pembentukan tandan buah segar terhambat kurun 6 hingga 12 bulan setelah tekanan air.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Ahnaf Yassar, memberikan pandangan mengenai dinamika pergerakan komoditas ini di pasar finansial.

"Kondisi tersebut membuka peluang kenaikan harga CPO dan meningkatkan sensitivitas laba emiten perkebunan," tulis analis Samuel Sekuritas Indonesia, Ahnaf Yassar dalam risetnya, Rabu (19/8/2026).

Setiap lonjakan harga CPO sebesar 10 persen berpotensi melipatgandakan rata-rata laba bersih emiten perkebunan pada 2027 hingga 37 persen. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) diproyeksikan menjadi perusahaan yang meraih manfaat terbesar dari lonjakan harga ini.

Ahnaf Yassar kemudian menegaskan optimisme terkait arah pergerakan harga komoditas CPO secara keseluruhan.

"Menjelang potensi terjadinya El Nino Godzilla, kami memperkirakan harga CPO akan mengalami kenaikan signifikan ke depan," sebut Ahnaf.

Di sisi operasional industri, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengingatkan potensi kombinasi kemarau ekstrem dan lonjakan harga pupuk 30 hingga 50 persen akibat konflik Iran. Faktor ini berpotensi memangkas produksi tahun 2026 sebesar 1 hingga 2 juta ton dari realisasi 2025 yang mencapai 51,7 juta ton.

Pengetatan pasokan CPO juga diperkuat oleh rencana implementasi kebijakan biodiesel B50 serta skema penyaluran ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Sementara itu, lembaga riset Oil World memproyeksikan ekspor Indonesia dapat menyusut hingga 1,7 juta ton pada kuartal II dan III.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed