Wasit Premier League Tanpa Headset Radio Saat Chelsea vs Brighton

Smallest Font
Largest Font

Wasit Premier League Michael Oliver dan tim ofisialnya terpaksa menjalankan pertandingan Chelsea melawan Brighton tanpa menggunakan headset radio pada babak kedua karena gangguan teknis sistem komunikasi, Minggu (30/8/2026), di Stamford Bridge.

Dalam laga yang berakhir dengan skor 4-3 untuk kemenangan Chelsea ini, masalah teknis pada sistem peredam kebisingan membuat suara penonton yang keras tidak tersaring, sehingga komunikasi verbal antar wasit menjadi tidak efektif.

Ini menjadi pengalaman langka karena selama dua dekade terakhir wasit Premier League selalu menggunakan headset sebagai alat komunikasi utama. Namun, gangguan kali ini membuat Oliver, asisten wasit Stuart Burt dan James Mainwaring, serta ofisial keempat Tom Bramall harus menggunakan metode komunikasi tradisional tanpa kontak suara langsung.

Masalah tersebut juga berdampak pada Video Assistant Referee (VAR), Andrew Kitchen, yang tidak bisa berkomunikasi secara langsung dengan Oliver.

"VAR harus bekerja melalui sistem cadangan dengan mengirim pesan ke jam tangan wasit," kata laporan BBC Sport. Bramall tetap dapat berkomunikasi dengan Kitchen melalui radio alternatif, namun Kitchen harus mengambil keputusan berdasarkan penilaian sendiri terhadap tayangan video.

Kelanjutan penggunaan teknologi komunikasi ini akan diselidiki oleh Premier League untuk mencegah gangguan serupa terjadi pada pertandingan berikutnya. Tim teknis dijadwalkan melakukan pengujian ketat pada peralatan.

Sementara itu, Michael Oliver dan timnya bersiap memimpin tugas mereka di pertandingan domestik dan kompetisi Eropa berikutnya dengan harapan perangkat komunikasi berfungsi normal kembali.

Di sisi lain, di Kolaka Timur, pertandingan Bupati Cup II antara Kecamatan Polipolia dan Kecamatan Ladongi di Lapangan Desa Gunung Jaya, Kecamatan Dangia, Sulawesi Tenggara, pada Kamis (27/8/2026) berakhir ricuh dan dihentikan.

Kericuhan terjadi saat Polipolia unggul 3-2 dan wasit memberikan penalti kepada Ladongi pada menit krusial yang memicu protes keras dari kubu Polipolia, karena hasil penalti berpotensi mengubah skor menjadi imbang 3-3 dan mempengaruhi peluang mereka lolos ke babak delapan besar.

"Waktu skor 3-2, tiba-tiba Ladongi dapat penalti. Pihak Polipolia tidak terima, akhirnya manajer dan beberapa penonton masuk ke lapangan," ujar Billy, seorang penonton.

Situasi semakin memanas hingga penonton masuk ke lapangan dan aparat keamanan turun untuk meredam. Penalti tidak jadi dieksekusi dan pertandingan dihentikan dengan skor tetap 3-2 untuk Polipolia.

Hingga kini panitia dan komisi pertandingan belum memberikan keterangan resmi soal status pertandingan dan sanksi atas kericuhan tersebut. Namun, hasil itu memastikan Polipolia dan Ladongi sama-sama lolos ke babak delapan besar Bupati Cup II Koltim 2026.

Sebelumnya, pada Minggu (23/8/2026), laga perdana Bupati Cup II Koltim berlangsung meriah dengan kemenangan Kecamatan Ulu Iwoi atas Lambandia 4-2, serta kemenangan tipis Kecamatan Aere atas Poli-Polia 1-0 di Lapangan Desa Gunung Jaya.

Hari berikutnya, Kecamatan Dangia menumbangkan juara bertahan Kecamatan Loea 2-0, sementara Kecamatan Tinondo menang tipis 1-0 atas Kecamatan Mowewe, pertandingan yang disaksikan oleh pejabat daerah dan mendapat pengamanan ketat.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed