Wamendiktisaintek Stella Christie Tegaskan AI Bukan Ancaman bagi Tenaga Kerja

Smallest Font
Largest Font

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak menjadi ancaman bagi tenaga kerja selama manusia tetap memiliki kemampuan berpikir kritis. Pernyataan ini disampaikan saat kuliah umum di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Rabu (5/8/2026), di GOR Pertamina ITS, dilansir dari Investor Daily.

Dalam kuliah umum tersebut, Stella menyampaikan kekhawatiran mahasiswa terkait potensi AI yang dapat mengambil alih berbagai profesi manusia. Ia menekankan pentingnya keterampilan evaluasi dan analisis dalam menghadapi keluaran AI.

"Pertanyaan yang paling penting adalah bagaimana mahasiswa mampu mengevaluasi produk keluaran dari AI. Mahasiswa harus bisa menilai apakah jawaban dari teknologi seperti ChatGPT itu bagus atau tidak. Kemampuan itu hanya bisa dimiliki jika kita memahami materinya sendiri sambil memanfaatkan AI," ujar Stella.

Stella mengingatkan bahwa informasi dari AI tidak selalu akurat dan bisa menghasilkan data keliru yang dikenal sebagai halusinasi sistem. Oleh karena itu, pengetahuan yang kuat sangat diperlukan untuk memverifikasi setiap output teknologi.

"AI juga sering bohong dan tidak akurat. Jika mahasiswa mampu mengevaluasi produk luaran dari AI, mereka akan tetap unggul dan tidak akan tergantikan," tegasnya.

Wamendiktisaintek juga mengingatkan agar mahasiswa tidak menjadi pengguna pasif yang menerima semua jawaban AI secara mentah-mentah tanpa berpikir kritis.

"Kalau kita cuma menjadi 'budak' dari AI, apa pun yang dikatakan AI langsung kita iyakan, itu pasti kita akan digantikan oleh AI," tutur Stella.

Ia mengajak generasi muda untuk tidak takut menghadapi transformasi digital dan mendorong mahasiswa menggunakan AI sebagai alat bantu untuk memperkuat kapabilitas, kreativitas, dan produktivitas agar tetap kompetitif di pasar kerja global.

Pemanfaatan AI generatif yang semakin luas di berbagai industri telah memicu disrupsi ketenagakerjaan secara global. Laporan lembaga riset menyoroti bahwa otomatisasi berpotensi menggantikan jutaan pekerjaan administratif dan teknis dasar, namun juga menciptakan kebutuhan tenaga kerja dengan keahlian tinggi.

Di Indonesia, fenomena ini menjadi tantangan bagi perguruan tinggi untuk mempercepat kurikulum yang membekali lulusan tidak hanya mahir menggunakan teknologi terkini tetapi juga memiliki keterampilan intelektual seperti pemikiran kritis, pemecahan masalah kompleks, dan etika AI.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed