Wamen ESDM Sebut Konflik Global Picu Kenaikan Subsidi Energi di Indonesia
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, mengatakan konflik global seperti perang AS-Iran dan Rusia-Ukraina mengganggu rantai pasok energi dunia, sehingga berdampak pada biaya produksi energi nasional dan anggaran subsidi di Indonesia. Kondisi ini memicu kenaikan biaya produksi energi yang secara langsung membebani APBN, terutama dari sisi subsidi dan kompensasi bahan bakar minyak (BBM), LPG, dan listrik, dilansir dari Detik Finance. Yuliot menjelaskan, "Kalau bagi Indonesia sendiri, dengan meningkatnya harga energi ini dampaknya itu adalah terhadap pembiayaan melalui alokasi untuk subsidi dan juga ini ada kompensasi yang disiapkan oleh negara. Itu baik terhadap BBM, ya kemudian listrik, LPG."
Dia menambahkan bahwa jika lonjakan harga energi dunia tidak segera diantisipasi dengan beralih ke sumber energi lain, termasuk energi baru dan terbarukan (EBT), pemerintah harus menyiapkan anggaran tambahan sekitar Rp 300 triliun untuk subsidi dan kompensasi.
Dalam APBN 2026, anggaran subsidi dan kompensasi energi mencapai Rp 381,3 triliun, dengan realisasi hingga semester I sudah Rp 233 triliun. "Kalau tidak kita antisipasi dengan ketersediaan energi baru dan terbarukan, konsekuensinya ada peningkatan kompensasi dan subsidi dari Rp 400 triliun, itu bisa meningkat sekitar Rp 300 triliun," ujar Yuliot.
Dia juga mengingatkan, "Kalau ini ada peningkatan sekitar Rp 300 triliun itu dampaknya itu juga ini ada defisit pembiayaan yang dibiayai dari APBN, khususnya pada tahun 2026 ini." Pemerintah berupaya mencapai swasembada energi dengan meningkatkan bauran energi baru terbarukan, termasuk pengembangan bahan bakar nabati dan pembangunan pembangkit listrik 100 gigawatt dari sumber energi bersih seperti tenaga surya dan panas bumi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow