Wall Street Menguat, S&P 500 Cetak Rekor Tertinggi Setelah Data Inflasi AS Mereda
Indeks saham utama di Wall Street melonjak pada perdagangan Kamis (13/8/2026), dengan indeks S&P 500 mencatat rekor tertinggi penutupan sepanjang masa. Kenaikan ini dipicu oleh data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan serta penurunan harga minyak, menurut dilansir dari Investor Daily.
S&P 500 ditutup naik 50,49 poin atau 0,65% ke level 7.798,99, sempat menyentuh rekor intraday 7.816,70. Indeks Nasdaq Composite menguat 0,81% ke 26.803,03, dan Dow Jones Industrial Average naik 69,72 poin (0,13%) menjadi 53.839,99. Sepanjang tahun 2026, S&P 500 telah naik sekitar 14% sementara Nasdaq menguat sekitar 15%.
Sentimen positif muncul dari data Indeks Harga Produsen (PPI) AS bulan Juli yang menunjukkan harga produsen tidak mengalami perubahan bulanan, lebih rendah dari ekspektasi kenaikan 0,2%. PPI inti yang tidak memasukkan makanan dan energi naik 0,2%, juga di bawah perkiraan 0,3%.
Data ini memperkuat keyakinan bahwa tekanan inflasi mulai mereda sehingga mengurangi kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September mendatang. Sehari sebelumnya, data Indeks Harga Konsumen (CPI) juga menunjukkan inflasi terkendali sehingga pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan September diperkirakan mencapai sekitar 63%. Penurunan imbal hasil US Treasury 10 tahun ke sekitar 4,65% turut mendukung sentimen positif bagi aset berisiko.
Kenaikan Wall Street juga didorong oleh saham teknologi dan perusahaan terkait kecerdasan buatan (AI). Saham Sandisk naik 13,7%, Micron Technology 4,2%, Microsoft hampir 1%, dan Meta Platforms bertambah 2,8%. Saham Netflix melonjak 5,4% setelah investor miliarder Bill Ackman mengumumkan kepemilikan baru di perusahaan tersebut.
Optimisme bisnis AI tetap menjadi pendorong pasar. CEO Infrastructure Capital Advisors Jay Hatfield menilai reli saham teknologi yang didorong AI masih didukung oleh pertumbuhan laba perusahaan.
Di sisi komoditas, harga minyak mentah Brent turun sekitar 2% ke US$ 87,07 per barel akibat kekhawatiran melemahnya permintaan energi global dan ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Penurunan harga minyak ini memberikan sentimen positif karena dapat meredakan tekanan inflasi dan memberi ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang longgar.
Namun, beberapa saham mengalami tekanan. Cisco Systems turun 8,4% setelah proyeksi pendapatan kurang meyakinkan investor. Saham Tapestry merosot lebih dari 16% setelah memperkirakan pertumbuhan pendapatan tahunan yang lemah. Sementara itu, Dell Technologies naik 2,1% dan HP menguat 6,9% setelah laporan kinerja Lenovo melampaui ekspektasi pasar.
Secara keseluruhan, tujuh dari 11 sektor dalam S&P 500 berakhir dengan penguatan, dengan sektor komunikasi naik 1,56% dan sektor real estat 1,34%.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow