Wacana IPO BUMN oleh Danantara: Potensi Pelindo dan BUMN Lainnya

Smallest Font
Largest Font

Penulis : Siswanto Rusdi *) 19 Aug 2026 | 20:45 WIB

Melalui salah satu top brass-nya, Donny Oskaria, Danantara mewacanakan initial public offering atau IPO sejumlah BUMN. Salah satu yang masuk dalam radar gagasan tersebut adalah perusahaan pelabuhan pelat merah Pelindo. Banyak perusahaan-perusahaan kita (BUMN) yang bagus, masih ada Pegadaian, ada Pupuk Indonesia, dan banyak, ada Pelindo, ada Angkasa Pura, dan banyak sekali perusahaan-perusahaan yang memang itu secara market cap bagus untuk kita IPO-kan, ujar Donny kepada awak media di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

encana langkah IPO perusahaan-perusahaan BUMN tersebut telah masuk dalam peta jalan atau roadmap transformasi BUMN untuk lima tahun ke depan. Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Pelindo, Benny Ariyadi, menegaskan hingga saat ini perseroan belum mengambil keputusan terkait rencana maupun pelaksanaan IPO. Katanya, Pelindo senantiasa mengikuti arahan dan kebijakan Danantara Indonesia serta berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait dalam setiap langkah strategis perusahaan. Hingga saat ini, belum ada keputusan terkait rencana dimaksud, ujarnya.

Walaupun masih sebatas wacana, IPO Pelindo menarik diberikan beberapa catatan. Supaya, perencanaanya benar-benar matang dan mencapai hasil atau manfaat yang diinginkan. Bukan apa-apa, sejauh ini pelaku usaha sektor pelabuhan nasional belum ada yang go public dan bila pemerintah kelak betul-betul menawarkan saham Pelindo ke publik ia akan menjadi yang pertama masuk bursa. Operator pelabuhan sekelas PSA saja bukanlah listed company. Dalam kalimat lain, offering yang akan Danantara diajukan bisa saja diminati atau dapat pula sepi pembeli karena masyarakat masih awam dengan bisnis ini. Beda dengan sektor usaha lain yang nature-nya telah dipahami oleh market seperti perbankan, telekomunikasi, dll.

Catatan pertama, rencana yang akan dilakukan oleh Danantara lebih tepat diistilahkan dengan divestasi; divestasi atas saham yang mereka miliki pada Pelindo yang porsinya mencapai seratus persen. Langkah ini bisa dilakukan dengan dua cara: ditawarkan ke publik melalui pasar saham atau bisa pula langsung kepada mitra strategis tanpa melalui perantaraan bursa. Karena pemahaman pasar atas sektor pelabuhan relatif terbatas, besar kemungkinannya penawaran yang diajukan tidak akan maksimal hasilnya. Oleh karenanya cara yang kedua sepertinya jauh lebih efektif untuk dipikirkan oleh Danantara.

Pertanyaannya, siapakah mitra strategis yang cocok untuk memegang saham Pelindo yang didivestasi itu? Kandidat pertama dan utama adalah pemerintah daerah, dalam hal ini Pemda DKI Jakarta. Mengapa harus instansi ini? Selama ini, sesungguhnya antara Pelindo dan Pemda DKI Jakarta telah berkerja sama erat dalam mengurus Pelabuhan Tanjung Priok. Mulai dari masalah kemacetan yang tak kunjung selesai di seputaran pelabuhan tersibuk di Indonesia itu, isu sosial, pertanahan –banyak tanah Pelindo yang dikuasai pemda tanpa skema pembagian hasil yang memadai untuk perusahaan– dan sebagainya. Di sisi lain, ada pula pos-pos yang secara tradisional menjadi haknya pemda di mana pun di Indonesia, yaitu retribusi parkir, tidak masuk ke kantong Pemda DKI Jakarta.

Singkat cerita, antara Pelindo dan Pemda DKI Jakarta bak “Tom dan Jerry”. Kendati demikian, sejatinya di antara keduanya terdapat hubungan batin yang kuat. Bila diperhatikan dengan saksama keberadaan pelabuhan-pelabuhan di berbagai belahan dunia, hampir semuanya selalu identik dengan kota di mana mereka berada. Ambil contoh, Pelabuhan Hamburg di Jerman, Pelabuhan Los Angeles di AS, Pelabuhan Singapura dan lainnya. Kala itu, harbor master atau syahbandarnya merupakan bagian pemerintah yang berkuasa dengan sejumlah privilese yang melekat. Sekarang keterkaitan antara keduanya diwujudkan dalam lembaga Port Authority (PA) di mana municipality atau pemda setempat ini berada dalam kamar regulator sedangkan entitas bisnisnya berada dalam kamar operator. Keduanya bergandengan tangan mengelola pelabuhan demi keberlanjutan ekonomi kota.

Di Indonesia konsepnya berbeda. PA (dikenal dengan istilah Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan atau KSOP) merupakan organ Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan. Adapun operator, Pelindo, berada di bawah naungan Danantara. Keduanya memiliki orientasi yang berbeda: pihak pertama mengurusi aspek teknis kepelabuhan sedangkan pihak kedua mengurusi aspek bisnis. Tidak ada peran, apalagi cuan buat pemda. Suasana asimetris inilah yang bisa disejajarkan bila rencana IPO/divestasi Pelindo dijalankan nanti. Dengan APBD-nya yang jumbo, rasa-rasanya Pemda DKI Jakarta mampu mengakuisisi saham negara yang akan dilepas ke publik.

Catatan kedua, karena seratus persen saham Pelindo dikuasai oleh Danantara, maka dana yang masuk dari penawaran saham perdana nanti akan masuk ke kocek negara sepenuhnya. Bukan ke kantongnya Pelindo. Publik jangan sampai salah paham soal ini. Apalagi sampai meyakini bahwa Pelindo akan makin membesar kapasitas finansialnya. Dugaan penulis, disusunnya rencana IPO beberapa perusahaan pelat merah sebagai mana disampaikan oleh petinggi Danantara kepada media beberapa waktu lalu itu lebih sebagai upaya mencari dana untuk menambal APBN yang berdarah-darah, bukan untuk memperkuat BUMN yang akan di-IPO.

Pengembangan bisnis Pelindo biasanya dilakukan dengan menggandeng mitra. Lihatlah bagaimana perusahaan ini melibatkan Mitsui dan PSA untuk mengembangkan NPCT1. Hal yang sama juga dilakukan di JICT dengan melibatkan Hutchison. Bila tidak, Pelindo mencari dana dari pasar keuangan dalam dan luar negeri. Strategi ini diterapkan ketika (kala itu) Pelindo II menerbitkan global bond senilai lebih dari 20 triliun rupiah. Dana ini dipakai untuk pengembangan fasilitas fisik pelabuhan di bawah kelolaannya. Sepertinya BUMN lain yang masuk radar IPO Danantara melakukan memiliki strategi masing-masing dalam pengembangan usahanya tanpa perlu menawarkan sahamnya kepada publik.

Lantas, apakah IPO perlu dilakukan? Meskipun eksekusinya masih dalam beberapa waktu ke depan, yang pasti rencana ini akan berjalan. Pasalnya negara butuh uang dan cara untuk mendapatkannya tanpa biaya yang mahal adalah melalui pasar modal. Yang sedikit menimbulkan concern, setidaknya bagi saya, adalah masuknya investor asing sebagai pemegang saham yang sampai derajat tertentu dapat mempengaruhi langkah Pelindo melebarkan sayap bisnisnya. Pelabuhan itu aset strategis sebuah negara. Makanya tidak banyak negara yang menjual saham pelabuhannya kepada pihak ketiga.

Editor: Euis Rita Hartati

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Persib Mau IPO, Bidik Valuasi Rp 1 Triliun

Demutualisasi BEI Masuk Tahap Konkret, Investor Potensial Sudah Berminat

Optimalisasi Layanan Genjot Arus Peti Kemas IPC TPK

65 Anak Pedalaman Papua Berlayar ke Jakarta, Lanjutkan Pendidikan hingga Kuliah

Bos Danantara: PT Pegadaian, Pupuk, Pelindo hingga InJourney Layak IPO

InveStory 3 menit yang lalu Menimbang Wacana IPO Pelindo Pelabuhan itu aset strategis sebuah negara. Makanya tidak banyak negara yang menjual saham pelabuhannya kepada pihak ketiga.

Finance 12 menit yang lalu Transformasi SDM Dorong Kinerja BBTN BTN memperkuat kemampuan pegawai melalui upskilling dan reskilling agar dapat mendukung kebutuhan bisnis yang makin digital.

Business 25 menit yang lalu Bauran EBT Terkoreksi Jadi 17% Kementerian ESDM melaporkan bauran EBT Indonesia terkoreksi menjadi 17%, dari sebelumnya 18%.

Business 41 menit yang lalu Biaya Haji 2027 Diusulkan ke Rp 107 Juta, Layanan Jemaah Dijanjikan Lebih Baik Biaya haji 2027 diusulkan lebih dari Rp 107,34 juta. Menhaj memastikan kenaikan diikuti peningkatan layanan bagi jemaah.

Lifestyle 51 menit yang lalu Anson Lifestyle Ekspansi Bisnis ke Semarang Anson Lifestyle melalui The Mahjong Room mengembangkan ekspansi ke luar Jakarta, khususnya ke Jawa Tengah.

Market 52 menit yang lalu Jelang Operasional 2027, OJK Tunjuk Henry Rialdi Awasi Bursa Mineral OJK menunjuk Henry Rialdi sebagai Deputi Komisioner Pengaturan dan Pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS).

Tag Terpopuler

Terpopuler

Siloam (SILO) Berencana Akuisisi 14 Rumah Sakit Senilai Rp 6,9 Triliun

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed