Trump Yakin Mojtaba Khamenei Masih Hidup Meski Alami Luka Parah

Smallest Font
Largest Font

Presiden Amerika Serikat Donald Trump meyakini bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, masih hidup meski mengalami luka parah akibat serangan AS dan Israel yang terjadi sejak Februari 2026. Trump mengatakan hal itu dalam wawancara dengan penyiar radio konservatif Glenn Beck pada 26 Agustus 2026, menanggapi laporan media The Atlantic yang menyebut spekulasi kematian Mojtaba tengah ramai di Iran. "Saya rasa dia belum meninggal.

Dia terluka sangat parah. Bagian kiri tubuhnya, lengan, kaki, semuanya. Dia terluka sangat parah, tetapi saya rasa dia belum meninggal," ujar Trump.

Trump menambahkan bahwa para perunding Iran sering menyebut harus berkonsultasi dengan Mojtaba sebelum mengambil keputusan akhir, yang menurut Trump menunjukkan bahwa sang pemimpin kemungkinan masih hidup.

"Mereka terus mengatakan akan kembali berbicara dengannya untuk mendapatkan persetujuan akhir mengenai berbagai hal," kata Trump. Sejak kematian ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang gugur dalam serangan awal AS dan Israel, Mojtaba dipilih oleh Majelis Ahli Iran sebagai pemimpin tertinggi baru pada 8 Maret 2026.

Namun, sejak pengangkatan tersebut, Mojtaba belum pernah muncul di depan publik, tidak ada foto, video, maupun rekaman suara terbaru yang dirilis, menimbulkan tanda tanya tentang kondisi kesehatannya. Presiden Iran Masoud Pezeshkian membantah kabar memburuknya kesehatan Mojtaba dan menyatakan bahwa dalam sebuah pertemuan selama tujuh hingga delapan jam pada 9 Agustus 2026, Mojtaba dalam kondisi sehat dan aktif berdiskusi.

Trump juga menyatakan bahwa tekanan militer dan ekonomi terhadap Iran telah membuahkan hasil, dan Selat Hormuz kini terbuka kembali untuk pelayaran, menandai kemajuan besar dalam konflik kawasan. "Anda benar-benar bisa mengatakan bahwa Selat itu terbuka. Kami sekarang membawa banyak kapal melalui Selat itu.

Ranjau-ranjau sudah hilang," kata Trump. Meski demikian, Korps Garda Revolusi Iran menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai AS menerima syarat-syarat Iran, sementara Iran juga menghalangi Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengunjungi fasilitas nuklir yang rusak akibat serangan.

Mohammad Eslami, kepala Organisasi Energi Atom Iran, menyatakan bahwa IAEA dianggap berada di bawah tekanan AS dan Israel, sehingga kunjungan ke fasilitas nuklir yang rusak harus dilakukan dengan prosedur baru dan kejelasan keamanan terlebih dahulu.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed