Tim Cook Mengantarkan Apple Menjadi Perusahaan Bernilai Triliunan Dolar
Tim Cook mulai menjabat sebagai CEO Apple pada Agustus 2011 dan selama 15 tahun memimpin perusahaan hingga mencapai nilai pasar yang mencapai 5 triliun dolar AS pada Juli 2025, menjadikannya perusahaan kedua yang mencapai angka tersebut.
Selama masa kepemimpinannya, saham Apple meningkat lebih dari 2.000 persen. Cook dikenal karena mengembangkan iPhone menjadi produk yang esensial untuk berbagai aktivitas sehari-hari, dari membeli kopi hingga membayar tagihan kartu kredit.
David Yoffie, profesor di Harvard Business School, menyatakan bahwa Tim Cook berhasil meningkatkan skala iPhone ke level yang tidak terduga dalam periode tersebut.
Namun, kesuksesan Apple tidak hanya karena keputusan produk yang cerdas, tetapi juga kemampuan Cook dalam mengelola hubungan politik antara Amerika Serikat dan China, dua negara krusial bagi operasi Apple.
Gene Munster, mitra pengelola di firma investasi teknologi Deepwater Asset Management, menyebut Cook sebagai "seorang negarawan" sekaligus CEO karena keahliannya dalam negosiasi dan pengambilan keputusan cepat.
Ron Johnson, mantan pengelola operasional ritel Apple, menggambarkan Cook sebagai sosok yang cerdas dan strategis yang selalu mendengarkan sebelum berbicara dalam rapat eksekutif.
Di bawah kepemimpinan Cook, Apple menghindari tarif tinggi dari pemerintahan Trump dengan berjanji menginvestasikan 600 miliar dolar AS untuk memperluas operasi di Amerika Serikat, termasuk produksi komponen iPhone.
Jeffrey Sonnenfeld dari Yale School of Management mengatakan bahwa Cook adalah salah satu CEO yang sangat dihormati oleh Presiden Trump selama masa jabatannya.
Cook juga mendorong diversifikasi produksi Apple dari China tanpa kehilangan daya tarik di pasar dan pemerintahan China, yang menurut Munster adalah pencapaian langka.
Namun, pandemi Covid-19 dan tarif Trump menunjukkan risiko ketergantungan Apple pada China. John Ternus, kepala rekayasa perangkat keras Apple yang akan menggantikan Cook pada 1 September, menghadapi tantangan tersebut.
Selain itu, hubungan tegang Apple dengan regulator di Eropa memaksa perusahaan mengubah operasional App Store di wilayah tersebut. Versi Siri yang diperbarui tidak akan dirilis di Eropa karena regulasi Uni Eropa.
Tekanan juga datang dari persaingan di bidang kecerdasan buatan (AI), di mana produk terbaru Apple, Vision Pro, belum memenuhi harapan pasar. Kekurangan chip memori akibat persaingan AI juga memaksa Apple menaikkan harga produknya.
Pada panggilan laporan keuangan terakhirnya sebagai CEO, Cook memberi nasihat kepada Ternus untuk fokus menciptakan produk yang memperkaya hidup pelanggan.
"Jika kamu terus fokus pada hal itu dan membuat keputusan berdasarkan hal tersebut, itu akan menghasilkan bisnis yang hebat," ujar Cook pada bulan April. "Dan kita akan bisa membuat lebih banyak produk dan mengulanginya lagi."
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow