Telkom Dorong Indonesia Jadi Rute Alternatif Kabel Laut Dunia

Smallest Font
Largest Font

Eskalasi konflik geopolitik di wilayah Timur Tengah mengancam keberlangsungan jaringan kabel laut internasional yang menjadi tulang punggung konektivitas internet global, seperti dilansir dari Detik iNET pada konferensi pers Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 di Nusa Dua, Bali.

Kawasan krusial seperti Selat Hormuz dan Laut Merah kini menghadapi risiko tinggi terhadap potensi gangguan fisik kabel pasokan internet yang melintasi jalur tersebut. Kerusakan di titik sentral ini berpotensi merusak stabilitas jaringan hingga ke wilayah Asia.

Director of Wholesale & International Service Telkom Indonesia Budi Satria Dharma Purba menjelaskan bahwa eskalasi militer langsung menekan keamanan infrastruktur digital regional.

"Kondisi geopolitik di Timur Tengah sangat memengaruhi kabel laut internasional. Ketika terjadi perang di kawasan Iran, kita mendengar banyak pembicaraan mengenai kerawanan kabel laut internasional yang melewati Strait of Hormuz," ujar Budi.

Keterpusatan konsentrasi kabel pada satu koridor geografis menjadi ancaman serius bagi sistem komunikasi lintas benua jika terjadi kerusakan fatal akibat peperangan.

"Kalau terlalu banyak kabel terkonsentrasi di satu jalur, lalu terjadi gangguan akibat perang atau faktor lainnya, dampaknya sangat besar. Bukan hanya ke Timur Tengah, tetapi bisa berpengaruh hingga Asia dan kawasan lainnya," kata Budi.

Kondisi rawan ini membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk menawarkan rute alternatif. Proyek kabel Bifrost yang menghubungkan Singapura dan Amerika Serikat tanpa melewati Laut China Selatan menjadi contoh nyata tingginya permintaan jalur aman.

"Permintaannya sangat tinggi. Banyak perusahaan Amerika Serikat yang memilih jalur tersebut sebagai prioritas. Indonesia mendapatkan keuntungan dari kondisi itu," ujarnya.

Rute domestik Indonesia dapat dimanfaatkan oleh negara Asia Selatan seperti India, Pakistan, dan Bangladesh sebagai koridor anyar menuju Amerika Serikat melalui kawasan Pasifik.

Inisiatif pengembangan rute ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan infrastruktur komunikasi dunia sekaligus menarik investasi baru ke dalam negeri.

"Kalau hal tersebut berhasil diwujudkan, akan semakin banyak investasi yang datang ke Indonesia karena konektivitas dari Indonesia menuju berbagai negara sudah tersedia," kata Budi.

Fokus industri telekomunikasi global kini bergeser pada keanekaragaman rute guna menghindari titik kegagalan tunggal pada jaringan utama.

"Persoalannya bukan sekadar mempunyai satu, dua, tiga, atau empat kabel. Yang jauh lebih penting adalah kabel-kabel itu lewat mana. Karena itu harus tersedia alternative route," ujarnya.

Kebutuhan sistem komunikasi cadangan atau redundancy juga dinilai makin mendesak seiring melonjaknya pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan.

CEO Telin Abdul Rahman Ansyori menegaskan ketergantungan pada satu jalur transmisi tunggal sangat berisiko bagi operasional teknologi modern.

"AI dengan segala kebutuhannya tidak bisa lagi dilayani hanya dengan satu jalur. Misalnya kabel internasional. Kita tidak bisa mengatakan AI cukup dihubungkan menggunakan single cable. Kalau kabel tersebut putus, AI bisa kehilangan konektivitas," ujar Abdul.

Skema kolaborasi lintas operator telekomunikasi kini menjadi modal operasional utama untuk membangun infrastruktur jaringan global yang lebih andal.

"Kolaborasi sekarang tidak lagi hanya menjadi best practice di industri. Kolaborasi sudah menjadi operating model," tegas Abdul.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed