Produsen Mobil Listrik Perkuat Strategi di Pasar Indonesia
Produsen otomotif Tunjukkan penyesuaian strategi penjualan guna menggaet konsumen kendaraan listrik di Indonesia yang makin selektif. Langkah tersebut mencakup peluncuran submerek baru hingga penyediaan model yang sesuai dengan kebutuhan mobilitas perkotaan. Persaingan pasar yang kian kompetitif mendorong produsen menghadirkan berbagai pilihan varian.
Lini produk disesuaikan agar mampu menjangkau berbagai segmen konsumen, mulai dari kelas premium hingga segmen yang mengutamakan efisiensi biaya. Pabrikan asal Tiongkok, Changan, mengusung beberapa submerek untuk membidik kelompok konsumen yang berbeda. Submerek Deepal difokuskan pada segmen premium dan sporti, sedangkan Nevo dihadirkan untuk menyasar konsumen yang menginginkan nilai ekonomis lebih tinggi.
"Kalau dari sub brand, Changan sendiri ada beberapa sebenarnya. Deepal itu ke premium, kalau Nevo kepada produk-produk yang bisa diterima atau punya nilai value for money lebih bagus," kata Ridjal Mulyadi, Head of Marketing Changan Indonesia.
Selain seri Deepal dan Nevo Q05, Changan juga menyediakan model Lumin EV sebagai pilihan mobil listrik paling terjangkau. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), distribusi wholesales Changan Lumin EV telah mencapai 168 unit hingga Juli 2026. "Kalau Lumin itu tipenya lebih kecil, kemudian fitur juga tidak sebanyak Nevo atau Deepal. Otomatis harga pasti lebih murah," ungkap Ridjal.
Sementara itu, persaingan di tingkat daerah seperti Jawa Timur juga mengalami peningkatkan intensitas. Pada ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) The Series 2026 di Surabaya yang berlangsung 26–30 Agustus 2026, perubahan pertimbangan konsumen menjadi sorotan utama para pelaku industri. "Kalau kita melihat Jawa Timur, khususnya Surabaya, kebutuhan mobilitas masyarakat cukup beragam. Persaingan kendaraan listrik tentunya semakin berkembang dan konsumen sekarang semakin banyak memiliki pilihan," ujar Angga, Regional Sales Senior Manager Wuling Motors.
Konsumen kini dinilai lebih kritis dalam mempertimbangkan berbagai aspek operasional sebelum membeli mobil listrik. Faktor jarak tempuh, kemudahan pengisian daya, ukuran kendaraan, serta biaya pemakaian harian menjadi pertimbangan utama. "Sekarang konsumen tidak hanya melihat kendaraannya listrik atau bukan.
Mereka mulai melihat bagaimana kendaraan tersebut bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk dari sisi jarak tempuh, kepraktisan dan kemudahan penggunaannya," katanya. Wuling memanfaatkan ajang GIIAS Surabaya 2026 untuk memperkenalkan Air ev yang menyasar segmen perkotaan. Model tersebut menawarkan dua opsi jarak tempuh, yakni Standard Range hingga 205 kilometer dan Long Range hingga 301 kilometer berdasarkan metode CLTC.
"Pasarnya masih berkembang. Jadi menurut kami, yang paling penting adalah bagaimana industri bisa memberikan pilihan sesuai kebutuhan masyarakat. Setiap konsumen tentu mempunyai kebutuhan mobilitas berbeda," jelasnya.
Perkembangan pasar kendaraan listrik turut didorong oleh peningkatkan infrastruktur pengisian daya dan pemahaman masyarakat. Kehadiran ragam model baru memperluas opsi konsumen dalam menentukan kendaraan yang sesuai dengan aktivitas harian. "Persaingan ini justru membuat industri semakin berkembang.
Konsumen mendapatkan lebih banyak pilihan dan produsen juga harus terus memahami apa yang dibutuhkan masyarakat," ungkapnya. Penyesuaian produk oleh para produsen menunjukkan bahwa kendaraan listrik mulai bergeser dari sekadar inovasi teknologi menjadi pilihan moda transportasi utama masyarakat perkotaan.
"Yang paling penting adalah edukasi dan pemahaman konsumen terhadap kendaraan listrik. Dengan semakin banyak pilihan, masyarakat bisa menentukan kendaraan yang paling sesuai dengan kebutuhan mobilitas mereka," tuturnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow