Sayuti Melik Ketik Naskah Proklamasi dengan Mesin Tik Pinjaman Nazi
Republik Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan ke-81 dengan mengenang proses penting pengetikan naskah proklamasi kemerdekaan oleh Sayuti Melik pada 17 Agustus 1945 di rumah Laksamana Tadashi Maeda, Jakarta Pusat.
Sayuti Melik bertugas mengetik naskah proklamasi menggunakan mesin tik pinjaman dari perwira Angkatan Laut Nazi Jerman, Mayor Kandelar. Mesin tik tersebut dipinjam oleh Satsuki Mishima dari kantor militer Jerman dan dibawa ke rumah Maeda untuk keperluan mengetik naskah.
Proses mengetik dilakukan dengan tergesa-gesa menjelang pagi hari, sehingga hasil ketikan tidak terlalu rapi dan tulisan sedikit miring. Sayuti melakukan beberapa perubahan penting, seperti mengubah kata "tempoh" menjadi "tempo", mengganti kalimat "wakil-wakil bangsa Indonesia" menjadi "Atas nama Bangsa Indonesia", serta menambahkan nama "Soekarno-Hatta" di naskah.
Perubahan juga terjadi pada tanggal dengan tulisan "Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05" yang mengacu pada tahun Showa Jepang 2605 atau 1945 Masehi. Setelah mengetik, naskah tulisan tangan Soekarno yang asli sempat tertinggal dan diduga hilang, bahkan sempat masuk ke tempat sampah, namun berhasil diselamatkan oleh Burhanuddin Muhammad Diah.
"Saya berani mengubah ejaan itu adalah karena saya dulu pernah sekolah guru, jadi kalau soal ejaan bahasa Indonesia saya merasa lebih mengetahui daripada Bung Karno," ujar Sayuti Melik.
"Setelah konsep saya ketik, saya tinggalkan begitu saja di dekat mesin tik dan ternyata tidak saya temui lagi," tambahnya.
"Saya beranggapan bahwa konsep yang ditulis tangan oleh Bung Karno itu telah hilang, mungkin sudah sampai di tempat sampah dan musnah," kata Sayuti Melik.
"Tetapi ternyata anggapan saya itu salah. Saudara BM Diah ternyata memberikan perhatian terhadap konsep naskah tulisan Bung Karno tadi, mungkin beliau (BM Diah) telah memikirkan untuk keperluan dokumentasi maka konsep itu diselamatkan," ujarnya.
Naskah proklamasi hasil ketikan menjadi naskah otentik yang dibacakan Soekarno pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta Pusat. Mesin tik pinjaman dari perwira Nazi kini tersimpan di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, yang dulunya merupakan rumah Laksamana Maeda.
Selain itu, Paskibraka menjadi bagian penting dalam upacara kemerdekaan RI, berawal dari gagasan Major (Laut) Husein Mutahar pada 1946 di Yogyakarta saat ibu kota Republik Indonesia dipindahkan sementara ke sana.
Menurut Mutahar, pengibaran bendera oleh pemuda dari berbagai daerah akan menjadi simbol persatuan bangsa. Konsep ini berkembang menjadi formasi 17-8-45 yang melambangkan tanggal proklamasi 17 Agustus 1945, dengan tiga kelompok utama: kelompok 17 sebagai pengawal depan, kelompok 8 sebagai pembawa dan pengibar bendera, dan kelompok 45 sebagai pengawal inti.
Pada 1973, istilah Paskibraka resmi digunakan menggantikan nama Pasukan Pengerek Bendera Pusaka yang sebelumnya dipakai. Anggota Paskibraka berasal dari pelajar SMA/SMK kelas 10 atau 11 yang melewati seleksi ketat, termasuk aspek fisik, mental, dan wawasan kebangsaan.
Saat ini, pembinaan Paskibraka berada di bawah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), dan para purna-Paskibraka diberi status sebagai Duta Pancasila untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan di masyarakat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow