Curaweda Hidupkan Sejarah Borobudur Lewat Teknologi AI di Galeri Indonesia Kaya
Curaweda menghadirkan Purwacarita Borobudur di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, yang menggunakan teknologi AI untuk menghidupkan kembali tokoh sejarah dan menceritakan kisahnya secara interaktif, mulai 1 September 2026, dilansir dari Detik iNET. Konsep ini berawal dari percakapan CEO Curaweda Azhar Muhammad Fuad dengan seorang raja muda di Cirebon yang tengah menghadapi tantangan mengelola keraton seluas 25 hektare yang kurang diminati masyarakat. Azhar mengisahkan, "Kita punya teknologi, tapi kita bingung ini mau diapain." Percakapan tersebut kemudian memunculkan ide menggunakan teknologi untuk membangkitkan kembali raja-raja dan tokoh sejarah agar mereka bisa menceritakan kisahnya sendiri.
Menurut Azhar, teknologi ini tidak hanya membuat sejarah lebih menarik secara visual, tetapi juga memastikan konsistensi informasi yang disampaikan berdasarkan sumber yang telah dikurasi.
"Penjelasan sejarah dari satu pemandu wisata dengan pemandu lainnya terkadang bisa berbeda. Dengan teknologi, narasi dapat disusun berdasarkan sumber yang telah dikurasi sehingga ceritanya memiliki standar yang sama," ujar Azhar. Azhar juga menekankan pentingnya unsur emosional agar pengunjung bisa merasakan suasana dan semangat cerita masa lalu, tidak sekadar menyampaikan fakta.
Setahun setelah ide itu berkembang, Curaweda membawa gagasan tersebut ke Borobudur, meski menghadapi tantangan mencari pihak berwenang yang mengelola sumber sejarah dan melakukan kurasi yang tepat. Tim Curaweda melakukan komunikasi intensif dengan Badan Otorita Borobudur, Museum dan Cagar Budaya, serta unit konservasi, termasuk melibatkan arkeolog, antropolog, dan pakar sejarah yang bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada untuk validasi sejarah.
Draf pertama film Purwacarita Borobudur selesai pada Agustus 2025 dan menjadi materi awal yang membuka jalan bagi proyek di Galeri Indonesia Kaya. President Director Bening Digital Indonesia, Lia Marliana, mempertemukan Curaweda dengan Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, yang tertarik dengan konsep tersebut dan memulai kolaborasi selama enam bulan. Renitasari menyatakan, "Kami di sini selalu percaya sama yang namanya semuanya tuh pasti kalau sudah waktunya dan jodoh, semuanya akan dimudahkan dan lancar."
Galeri Indonesia Kaya menantang Curaweda agar pengalaman ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga imersif, interaktif, dan memiliki unsur permainan.
Hasilnya adalah Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa, yang menghadirkan delapan fitur imersif berbasis Ethical AI, seperti visualisasi relief, interaksi dengan tokoh sejarah, hingga film tentang asal usul pembangunan Borobudur. Pengalaman ini sudah dapat dinikmati gratis di Galeri Indonesia Kaya sejak 1 September 2026 hingga Desember mendatang, membawa generasi sekarang lebih dekat dengan sejarah masa lalu.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow