PT Samwon Busana Indonesia Tutup Permanen dan PHK 680 Pekerja
Pabrik garmen PT Samwon Busana Indonesia di Desa Damarjati, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, menghentikan operasionalnya secara permanen pada Senin (27/7/2026). Langkah penutupan pabrik tersebut berdampak langsung pada pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 680 pekerja, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Gelombang PHK ini terjadi setelah perusahaan sebelumnya telah memberhentikan sekitar 120 pekerja pasca-Lebaran, yang mayoritas memiliki masa kerja dua tahun. Penutupan akhir ini mengharuskan seluruh sisa pekerja mengakhiri masa pengabdian mereka di perusahaan tersebut.
Para pekerja yang terdampak menerima pesangon serta hak Jaminan Kehilangan Pekerjaan dari BPJS Ketenagakerjaan. Bagi pekerja dengan masa kerja tiga hingga enam tahun, perusahaan memberikan penghargaan masa kerja sebesar dua kali ketentuan di luar pesangon dan kompensasi sisa cuti tahunan. Meski demikian, para pekerja yang sebelumnya menerima gaji setara UMK Jepara sebesar Rp 2,7 juta dan bisa mencapai Rp 5 juta saat lembur, tetap kehilangan sumber penghasilan utama mereka.
Salah satu pekerja asal Demak yang telah bekerja selama empat tahun, Dayu, mengungkapkan rasa terkejutnya atas keputusan penutupan pabrik tersebut karena jadwal produksi sebelumnya masih padat.
"Rasanya sakit di hati mendengar berita pabrik akan ditutup. Ternyata benar kabar burung yang selama ini beredar," ujar Dayu.
Ia menambahkan bahwa kegiatan operasional pabrik masih berjalan intensif pada bulan sebelumnya untuk mengejar target pengiriman barang.
"Tidak menyangka. Karena bulan Juni kemarin itu masih lembur jor-joran," kata Dayu.
Kini ia berencana memanfaatkan uang kompensasi tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga sembari mengasuh anaknya yang berusia 16 bulan dan mencari peluang kerja baru.
"Jane sebenarnya sedih, gak nyangka. Tapi yang penting dapat pesangon. Ya sambil momong anak dan menunggu kesempatan bekerja di tempat lain. Kalau ada lowongan bisa mendaftar," ucap Dayu.
Menanggapi fenomena PHK di sektor manufaktur, Asosiasi Pengusaha Indonesia menilai penutupan pabrik dipicu oleh masalah struktural industri padat karya, langkah efisiensi, hingga penurunan permintaan pasar global.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, menekankan pentingnya respons cepat dari pihak pemerintah sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan total.
"Memang PHK sekarang bermacam sumbernya. Ada yang masalah struktural seperti di sektor padat karya, efisiensi di sektor manufaktur, dan menurunnya permintaan," kata Bob Azam.
Ia mendorong adanya pemetaan menyeluruh terhadap sektor-sektor industri yang terindikasi mengalami kesulitan keuangan guna meminimalkan potensi pemutusan hubungan kerja massal.
"Mitigasi justru dilakukan di awal, jangan di ujung menjelang PHK. Perlu identifikasi dan pemetaan perusahaan yang sedang mengalami kesulitan per sektor, kemudian dibuat langkah-langkah mitigasinya," ujar Bob Azam.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow