Rupiah Menguat ke Rp17.695 Per Dolar AS akibat Harga Minyak Turun

Smallest Font
Largest Font

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat 28 poin atau 0,16 persen ke level Rp17.695 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu (26/8/2026). Apresiasi mata uang Garuda ini ditopang oleh merosotnya harga minyak mentah dunia.

Sebelumnya, pada perdagangan Selasa (25/8/2026) saat pasar domestik libur nasional, nilai tukar rupiah berdasarkan data Bloomberg sempat melemah terbatas 0,03 persen di pasar spot ke level Rp17.723 per dolar AS dari posisi penutupan hari sebelumnya di Rp17.721 per dolar AS.

Penguatan rupiah di zona hijau sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang kawasan Asia terhadap dolar AS, seperti yuan China yang naik 0,01 persen, peso Filipina menguat 0,24 persen, ringgit Malaysia terapresiasi 0,34 persen, dolar Singapura menguat 0,02 persen, yen Jepang naik 0,17 persen, serta won Korea Selatan naik 0,01 persen. Sebaliknya, dolar Hong Kong melemah 0,03 persen.

Di sisi lain, mayoritas mata uang utama negara maju tertekan terhadap dolar AS, di mana euro turun 0,08 persen, poundsterling Inggris melemah 0,01 persen, dolar Kanada terdepresiasi 0,04 persen, dan franc Swiss berkurang 0,05 persen, sedangkan dolar Australia menguat 0,19 persen.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa kondisi pasar dipengaruhi oleh reda tingginya harga komoditas energi global.

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS seiring penurunan harga minyak mentah dunia di tengah meningkatnya harapan perdamaian di Timur Tengah, menyusul laporan bahwa Iran dan Oman membahas pembentukan ‘koridor maritim gabungan sementara’ di Selat Hormuz," kata Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.

Upaya pemulihan kelancaran alur pelayaran strategis tersebut dibahas langsung oleh Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi dan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi guna memfasilitasi stabilitas kawasan, sebagaimana dilansir dari Xinhua.

Dampak dinamika geopolitik ini memicu harga minyak mentah Brent anjlok ke kisaran 86,2 dolar AS per barel, meneruskan penurunan 2,4 persen pada sesi sebelumnya, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 5,5 persen menjadi 80,40 dolar AS per barel berdasarkan laporan Anadolu.

Lukman Leong menambahkan pandangannya terkait pemicu utama pergerakan kurs harian.

"Rupiah dibuka menguat terhadap dolar seiring penurunan harga minyak mentah dunia di tengah meningkatnya harapan perdamaian di Timur Tengah," ujar Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures.

Gagasan pembentukan koridor maritim gabungan di Selat Hormuz menjadi perhatian utama para pelaku pasar mata uang internasional.

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul laporan bahwa Iran dan Oman membahas pembentukan 'koridor maritim gabungan sementara' di Selat Hormuz," kata Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.

Tekanan geopolitik global sebelumnya dipengaruhi aksi dorongan Economic D-Day dari Amerika Serikat yang mengancam sanksi bagi entitas penopang ekonomi Iran, sehingga memicu penguatan dolar AS akibat sentimen risk-off pasar global.

Di samping itu, sentimen domestik dari dalam negeri dinilai minim, meski pelaku pasar menaruh kewaspadaan terhadap agenda aksi demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (27/8/2026), dengan perkiraan rentang nilai tukar rupiah harian bergerak di kisaran Rp17.650 hingga Rp17.750 per dolar AS.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed