Rupiah Berisiko Melemah Menembus Rp 17.900 per Dolar AS Besok

Smallest Font
Largest Font

Nilai tukar rupiah berisiko kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Kamis (20/8/2026), meski sempat menguat 22 poin atau 0,12 persen ke level Rp 17.840 per dolar AS pada Rabu (19/8/2026) sore, dilansir dari Investor Daily.

Penguatan mata uang garuda pada perdagangan sebelumnya didorong oleh langkah Bank Indonesia yang menahan suku bunga acuan atau BI Rate di posisi 5,75 persen. Langkah stabilisasi tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur periode 18-19 Agustus 2026 guna membendung dampak gejolak pasar keuangan global akibat ketegangan militer di Timur Tengah.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan kurs rupiah masih dibayangi oleh ketidakpastian kondisi geopolitik di kawasan Selat Hormuz.

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diprediksi melemah di rentang Rp 17.840 - Rp 17.900 per dolar AS," ungkap Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi.

Ibrahim menjelaskan bahwa para pelaku pasar saat ini sedang mencermati dinamika diplomatik serta klaim yang saling bertolak belakang antara otoritas Washington dan Teheran mengenai status keamanan jalur pelayaran internasional tersebut.

"Para investor menimbang sinyal yang saling bertentangan dari Teheran dan Washington mengenai status Selat Hormuz bagi pelayaran kapal. Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa menyatakan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka, sebuah pernyataan yang bertolak belakang dengan klaim Iran bahwa jalur air vital tersebut masih tertutup bagi lalu lintas pelayaran," kata Ibrahim.

Eskalasi konflik kawasan Timur Tengah turut menekan prospek pertumbuhan ekonomi global tahun ini. Bank Indonesia memproyeksikan laju pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 bakal tertahan akibat lonjakan harga komoditas energi.

"Kondisi ini dipengaruhi oleh berlanjutnya intensitas perang di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dan komoditas dunia lainnya kembali naik. Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 belum kuat yang diperkirakan sekitar 3%," ucap Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI, Destry Damayanti.

Selain itu, Bank Indonesia mengantisipasi peningkatan inflasi global hingga mencapai 4,5 persen pada 2026. Tekanan inflasi tersebut memicu ketatnya arah kebijakan moneter global, termasuk proyeksi kenaikan suku bunga Fed Funds Rate (FFR) serta tingginya imbal hasil US Treasury pada triwulan IV-2026.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed