Harga Emas Pekan Depan Bayangi Volatilitas Inflasi AS dan Jackson Hole

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Pergerakan harga emas diperkirakan bakal menghadapi volatilitas cukup tinggi sepanjang pekan depan. Gejolak ini dipicu oleh pencermatan pelaku pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi, hingga arah kebijakan moneter The Fed. Dikutip dari Investor Daily, perhatian utama pasar global kini tertuju pada rilis data Core Personal Consumption Expenditures serta agenda simposium Jackson Hole.

Kedua peristiwa tersebut dinilai krusial dalam menentukan arah suku bunga AS dan pergerakan emas ke depan. Pada perdagangan pekan ini, emas sempat mencatatkan penguatan tajam yang didukung oleh pelemahan dolar AS. Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga untuk periode September turut menopang harga logam mulia tersebut.

Lonjakan harga emas bahkan sempat menembus level US$ 4.500 per ons troi sesudah Departemen Keuangan AS mengumumkan aksi pembelian kembali surat utang. Tren positif ini berlanjut hingga akhir pekan dengan harga yang bertahan di atas US$ 4.600 per ons troi.

Rangkaian agenda ekonomi pekan depan akan diawali dengan publikasi indeks kepercayaan konsumen Conference Board serta data penjualan rumah baru. Data tersebut menjadi tolok ukur ketahanan konsumsi masyarakat di tengah beban biaya pinjaman yang tinggi. Fokus pasar makin memuncak saat rilis Core PCE Price Index bersamaan dengan estimasi kedua pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 dan data pesanan barang tahan lama. Core PCE sendiri merupakan indikator inflasi utama yang menjadi acuan resmi bagi bank sentral AS.

Apabila laju inflasi menunjukkan tren melandai, peluang The Fed untuk menahan tingkat suku bunga akan semakin terbuka lebar. Kondisi ini diprediksi menjadi sentimen positif yang mampu mengerek harga emas lebih tinggi. Namun sebaliknya, indikasi ekonomi yang terlampau solid serta inflasi yang membandel dapat menghidupkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga. Skenario tersebut berisiko menekan harga emas karena meningkatkan daya tarik imbal hasil obligasi dan aset berbasis dolar.

Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi AS juga tidak luput dari perhatian. Estimasi awal menunjukkan pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 1,5 persen secara tahunan pada kuartal II, dari capaian 2,1 persen di kuartal sebelumnya.

Pidato The Fed dan Data Tenaga Kerja

Puncak dari pergerakan pasar diperkirakan terjadi saat Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan pidatonya di simposium Jackson Hole. Pelaku pasar akan membedah setiap pernyataan untuk membaca pandangan bank sentral terkait inflasi dan risiko ekonomi menjelang pertemuan FOMC.

Selain pidato pejabat bank sentral, pasar juga mengantisipasi rilis revisi tahunan awal untuk data tenaga kerja AS. Evaluasi ini penting untuk melihat apakah realisasi penyerapan tenaga kerja sebelumnya terhitung terlalu tinggi atau justru sebaliknya.

Jika hasil revisi memperlihatkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan awal, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter bakal makin menguat. Situasi ini berpotensi memberikan dorongan amunisi tambahan bagi tren kenaikan harga emas.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed