Polri Terapkan Tes Komputer dan Rikpil Seleksi Akpol 2026

Smallest Font
Largest Font

Staf Sumber Daya Manusia Kepolisian Negara Republik Indonesia menggelar tahap akhir seleksi Calon Taruna Akademi Kepolisian tahun anggaran 2026 di Gedung Serba Guna Akpol Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat dan Sabtu, 24 hingga 25 Juli 2026.

Tahapan seleksi tingkat pusat yang mencakup pemeriksaan penampilan, tes komputer, serta pengujian akademik berstandar olimpiade tersebut diikuti oleh 404 peserta, terdiri dari 365 calon taruna pria dan 39 calon taruni wanita.

Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Komjen Pol. Dedi Prasetyo memimpin langsung proses penilaian bersama lima pejabat utama Mabes Polri guna memastikan kualitas dan transparansi rekrutmen.

Masa depan institusi Polri, menurut Komjen Pol. Dedi Prasetyo, sangat bergantung pada kesiapan serta pembentukan karakter generasi penerus sejak proses rekrutmen awal.

"Masa depan Polri akan sangat bergantung pada sejauh mana generasi penerus disiapkan. Bagaimana kita tidak hanya menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan hebat, tetapi juga karakter yang kuat, kepedulian sosial, serta keberanian untuk memimpin perubahan," ujar Komjen Pol. Dedi Prasetyo.

Proses pengecekan akhir ini juga menjadi sarana evaluasi menyeluruh atas hasil seleksi berjenjang yang sebelumnya telah dilaksanakan di tingkat polda maupun panitia pusat.

"Rikpil bukan sekadar melihat penampilan secara fisik, melainkan menjadi evaluasi menyeluruh untuk memastikan hasil seleksi sebelumnya benar-benar mencerminkan kualitas calon taruna yang akan dididik menjadi perwira Polri," tegas Komjen Pol. Dedi Prasetyo.

Sementara itu, Asisten Kapolri Bidang Sumber Daya Manusia Irjen Pol. Anwar menjelaskan bahwa pemeriksaan penampilan di tingkat pusat berfungsi sebagai instrumen pengawasan pimpinan Polri.

"Ini untuk memastikan bahwa proses seleksi itu benar. Jadi sarana kontrol pimpinan-pimpinan Polri untuk memastikan seleksi betul-betul bersih, transparan dan akuntabel. Jangan sampai peserta di sana (tingkat daerah) tesnya nggak lulus, di sini (tingkat pusat) muncul pesertanya," jelas Irjen Pol. Anwar kepada Detikcom di Akpol Semarang.

Pengujian ini diselenggarakan untuk menggali lebih dalam potensi peserta yang belum terlihat pada tahapan pengujian sebelumnya.

"Rikpil ini adalah kegiatan untuk melengkapi rangkaian tes. Menggali kemampuan-kemampuan, prestasi calon taruna dan taruni yang belum tergali di tes-tes sebelumnya," sebut Irjen Pol. Anwar.

Seluruh calon taruna sebelumnya telah melewati rangkaian pemeriksaan administrasi, kesehatan, psikologi, hingga kesamaptaan jasmani.

"Tes akademik sudah, tes psikologi sudah, penelusuran minat, bakat dan kemampuan sudah, kesamaptaan sudah. Tapi kan prestasi dan bakat mereka belum tergali," tambah Irjen Pol. Anwar.

Ia mengingatkan bahwa hasil penilaian pada pemeriksaan penampilan bisa menentukan kelulusan peserta.

"Kalau ketika di sini, kita menemukan hal yang tidak sesuai dengan data hasil seleksi, bisa menjadi penghalang (catar untuk lulus). Kalau (kualitas peserta) bagus, dia memenuhi syarat untuk menjadi anggota Polri, ada potensi-potensi lain yang bisa kita gali," kata Irjen Pol. Anwar.

Sistem rekrutmen tahun ini menggabungkan tiga aspek utama, dengan bobot tertinggi ditempatkan pada pengujian akademik.

"Di tes tingkat pusat ada tiga aspek yaitu akademik ada TPA dan Bahasa Inggris, kemudian adalah kesamaptaan jasmani, lalu rikpil ini," tutur Irjen Pol. Anwar.

Aspek akademik diberi porsi terbesar karena calon taruna diproyeksikan menjadi pimpinan Polri di masa depan.

"Idealnya bobot akademik tertinggi dari 100 persen, karena para peserta calon pimpinan Polri. Yang bobotnya sedang adalah samapta karena fisiknya harus kuat, jangan terus nanti letoi. Rikpil ini karena masih ada penilaian subjektivitas makanya kita kasih bobotnya yang di bawah, nilai tambahan," pungkas Irjen Pol. Anwar.

Selain pemeriksaan penampilan, Polri juga mewajibkan tes komputer bagi seluruh jenjang rekrutmen sebagai bagian dari penyesuaian era digital.

"Beberapa hal yang baru di rekrutmen anggota Polri, tes komputer," kata Irjen Pol. Anwar dilansir dari Kompas.com.

Langkah baru ini diterapkan agar para peserta dari Generasi Z memiliki kecakapan dasar dalam mengoperasikan perangkat teknologi digital.

"Dari mulai bintara, tamtama, perwira sama, mereka semua gen Z ini harus mengenal teknologi. Jadi di rekrutmen tamtama, bintara, Akpol ada tes komputernya," ungkap Irjen Pol. Anwar.

Irjen Pol. Anwar menekankan pentingnya penguasaan teknologi agar anggota kepolisian tidak tertinggal dalam menjalankan tugas.

"Kalau mereka tidak ngerti komputer, teknologi, mengoperasikan komputer, gadget, mereka akan ketinggalan," nilai Irjen Pol. Anwar.

Pada aspek akademik, Polri meningkatkan standar soal ujian yang tidak lagi mengandalkan metode hafalan melainkan standar olimpiade.

"Polisi itu tesnya ada empat. Terkait intelektualitas tesnya tes akademik, bahasa Inggris, pengetahuan umum, matematika dan sebagainya. Dan sekarang ini sudah standar olimpiade,” ujar Irjen Pol. Anwar.

Perubahan materi ujian tersebut ditujukan untuk mengukur daya analisis dan kemampuan peserta dalam memecahkan masalah.

"Inilah yang paling kita senang, sudah bukan zamannya soal hafalan lagi atau textbook. Sehingga kualitas mereka itu saat melihat ada permasalahan, bisa menganalisa, memecahkan suatu permasalahan. Ini yang diperlukan Polri di masa depan," kata Irjen Pol. Anwar.

Proses penilaian rikpil tahun ini melibatkan enam pejabat penilai, yakni Komjen Pol. Dedi Prasetyo, Komjen Pol. R.Z.

Panca Putra, Irjen Pol. Anwar, Irjen Pol. Abdul Karim, Irjen Pol.

Tomex Korniawan, serta Irjen Pol. Daniel Tahi Monang Silitonga.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed