Polisi Selidiki Hilangnya Mahasiswi Baru Undip Asal Semarang

Smallest Font
Largest Font

Polres Semarang bersama Kepolisian Daerah Jawa Tengah masih terus menyelidiki misteri hilangnya seorang remaja bernama Mozza Axillia Gunarsa (18), warga Desa Gebugan, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, yang dilaporkan belum ditemukan sejak Rabu, 25 Juni 2025.

Hingga Senin, 13 Juli 2026, pihak kepolisian menegaskan komitmen penuh untuk mengusut tuntas perkara ini. Penyelidikan mendalam terus dijalankan dengan melibatkan berbagai satuan kerja guna mempercepat titik terang keberadaan korban.

"Setiap informasi yang diterima, sekecil apa pun, akan kami tindak lanjuti secara serius," kata Kombes Pol Artanto, Kabid Humas Polda Jawa Tengah.

Pihak kepolisian sejauh ini telah melakukan penyisiran serta memeriksa rekaman kamera pengawas di kawasan Kota Lama Semarang. Langkah tersebut diambil menyusul ditemukannya telepon genggam milik korban oleh warga setempat.

"Tim penyidik terus bekerja menelusuri setiap petunjuk melalui koordinasi lintas kewilayahan, pendalaman barang bukti digital, serta pengembangan informasi dari masyarakat," ucap Kombes Pol Artanto, Kabid Humas Polda Jawa Tengah.

Selain itu, kepolisian juga sempat melacak nomor telepon lama korban yang terdeteksi aktif di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Namun, nomor itu dipastikan telah digunakan pelanggan lain karena proses daur ulang oleh operator.

"Setiap informasi yang disampaikan akan diverifikasi dan ditindaklanjuti oleh penyidik. Dukungan serta partisipasi masyarakat sangat berarti dalam membantu proses pencarian ini," tambah Kombes Pol Artanto, Kabid Humas Polda Jawa Tengah.

Polda Jawa Tengah mengimbau publik untuk tidak memercayai kabar bohong yang simpang siur demi menjaga kelancaran proses penyelidikan. Masyarakat yang memiliki informasi valid diharapkan segera melapor ke kantor polisi terdekat.

"Kami mengajak masyarakat yang mengetahui atau memiliki informasi terkait keberadaan Saudari Mozza Axillia Gunarsa agar segera melaporkannya kepada Polres Semarang atau kantor kepolisian terdekat. Setiap informasi yang disampaikan akan diverifikasi dan ditindaklanjuti oleh penyidik. Dukungan serta partisipasi masyarakat sangat berarti dalam membantu proses pencarian ini," ungkap Kombes Pol Artanto, Kabid Humas Polda Jawa Tengah.

Di sisi lain, Satreskrim Polres Semarang menjelaskan bahwa penanganan perkara ini melibatkan berbagai direktorat di kepolisian. Di antaranya adalah Direktorat Reserse Kriminal Umum serta Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah.

"Namun setelah kami lakukan penelusuran, temannya mengaku tidak pernah memiliki janji dengan yang bersangkutan," terang AKP Bodia Teja Lelana, Kasatreskrim Polres Semarang.

Hingga kini polisi masih memeriksa berbagai alat bukti dan menolak berspekulasi mengenai motif di balik hilangnya mahasiswi baru Universitas Diponegoro tersebut. Upaya pencarian fisik bahkan telah diperluas ke luar wilayah.

"Orang tua korban juga sempat mengikuti upaya pencarian bersama kami hingga ke wilayah Jawa Timur," ungkap AKP Bodia Teja Lelana, Kasatreskrim Polres Semarang.

Kepolisian memastikan proses hukum tetap berjalan dan mengumpulkan semua fakta di lapangan secara profesional. Petunjuk digital yang diamankan terus dianalisis secara mendalam oleh tim penyidik.

"Sampai saat ini yang bersangkutan belum ditemukan. Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan," kata AKP Bodia Teja Lelana, Kasatreskrim Polres Semarang.

Polisi menambahkan bahwa barang bukti telepon genggam milik korban yang ditemukan tahun lalu diduga kuat sengaja dibuang. Penemuan itu menjadi salah satu fokus pelacakan digital saat ini.

"Satu-satunya akses berupa telepon seluler milik yang bersangkutan sudah dibuang dan berhasil kami temukan tahun lalu," ujar AKP Bodia Teja Lelana, Kasatreskrim Polres Semarang.

Pihak berwenang menyatakan belum bisa menarik kesimpulan final dari pemeriksaan saksi-saksi. Penegasan mengenai tidak adanya janji temu dengan teman korban kembali disampaikan untuk meluruskan kronologi.

"Kami tidak bisa berasumsi terkait motif. Setelah kami lakukan penelusuran, temannya mengaku tidak pernah memiliki janji dengan yang bersangkutan," kata AKP Bodia Teja Lelana, Kasatreskrim Polres Semarang.

Sementara itu, Singgih, ayah dari Mozza, mengungkapkan rasa sedih mendalam karena belum mendapatkan titik terang mengenai nasib anak sulungnya setelah setahun berlalu. Ia mengenang kembali pesan WhatsApp terakhir yang dikirimkan sang anak saat berpamitan keluar rumah.

"Yah, kakak keluar sm mbak ayuk ke rumah tmn mb ayuk yg dikodam, nganter laptop mau dipinjam tmn mbk ayuk".

Pesan singkat dari putrinya tersebut dikirimkan sebelum ponsel korban akhirnya tidak aktif lagi. Singgih sempat membalas pesan tersebut untuk memberikan izin.

"Iya".

Keluarga mulai curiga setelah korban tidak kunjung memberikan kabar hingga malam hari. Kebiasaan korban yang selalu mengirimkan foto saat berada di luar rumah tidak dilakukan hari itu.

"Saat itu memang saya sudah curiga biasanya kalau pergi itu pasti foto tempatnya, laporan. Tapi kok kali ini tidak. Dan sampai sekarang tidak pernah ada kabar apa pun, atau petunjuk apa pun yang dikirimkan oleh Mozza," ujar Singgih, Ayah Korban.

Singgih mengaku kecewa dan merasa penanganan laporan orang hilang yang diajukannya berjalan lambat. Ia terus mendatangi kantor polisi demi memantau perkembangan pencarian anaknya.

"Saya sudah lapor ke Polres Semarang ke Polda Jawa Tengah tapi belum ada hasil. Menurut saya prosesnya lama, dan terkesan bertele-tele," ucap Singgih, Ayah Korban.

Ia juga mempertanyakan kondisi barang bukti ponsel milik anaknya yang ditemukan di kawasan Kota Lama. Meskipun sistemnya telah dibersihkan, ia meyakini data di dalamnya masih bisa diselamatkan.

"Ponselnya itu ketemu di Kota Lama sekitar September 2025. Ada orang yang menemukan, tapi kondisinya sudah direset. Tapi kan mungkin masih bisa dipulihkan bisa diselidiki lewat itu," jelas Singgih, Ayah Korban.

Selain ponsel, barang bukti berupa KTP dan SIM milik korban ditemukan tercecer di Jalan Dr. Cipto oleh seorang pengemudi becak. Singgih menyayangkan tidak adanya akses rekaman kamera pengawas di lokasi penemuan barang tersebut.

"KTP dan SIM-nya ditemukan di jalan. Oleh tukang becak kebetulan saat itu ada tetangga desa yang tahu dan langsung dikembalikan ke saya. Saya sudah minta polisi untuk membuka CCTV di jalan itu tapi tidak diberikan," jelas Singgih, Ayah Korban.

Keluarga juga berinisiatif memeriksa peranti lain milik korban dan menemukan jejak interaksi digital yang mencurigakan. Informasi tersebut diakui sudah diserahkan sepenuhnya kepada kepolisian untuk didalami.

"Jadi ada akun media sosialnya yang masih nyangkut di tab Mozza, saya buka dan ada salah satu akun yang rutin berkomunikasi dengan Mozza. Saya minta polisi menyelidiki siapa pemilik akun itu, tapi belum dilaksanakan tampaknya. Padahal menurut saya itu petunjuk penting," ungkap Singgih, Ayah Korban.

Pencarian mandiri telah dilakukan oleh pihak keluarga ke berbagai daerah demi mencocokkan informasi dari masyarakat. Perjalanan ke Jawa Timur pun dilakoni demi mengecek keaktifan nomor telepon lama korban.

"Saya sering dapat info ada yang lihat di sini, di sana. Saya datangi sampai ke mana-mana. Kalau yang Jombang itu memang bersama penyidik karena nomor lama Mozza tiba-tiba terdeteksi di Jombang tapi ternyata sudah dipakai orang lain," jelas Singgih, Ayah Korban.

Segala jalur komunikasi, termasuk mengirimkan pesan langsung ke akun media sosial para pejabat daerah, telah dicoba oleh Singgih. Namun, hingga saat ini langkah tersebut belum mendapatkan tanggapan resmi.

"Tapi tidak pernah ada jawaban atau ditanggapi. Sampai sekarang saya selalu cari lewat media sosial," ucap Singgih, Ayah Korban.

Singgih menyampaikan bahwa Mozza dinyatakan lolos seleksi sebagai mahasiswa baru di Universitas Diponegoro pada Juli 2025. Fakta tersebut baru diketahui pihak keluarga satu bulan setelah korban dinyatakan hilang.

"Jadi mungkin Mba Mozza belum tahu dia keterima jadi mahasiswa di Undip. Bulan Juli 2025 itu pengumuman penerimaan mahasiswa baru dan anak saya diterima," katanya, Singgih, Ayah Korban.

Keluarga meyakini ada pihak lain yang terlibat dalam hilangnya korban karena Mozza dikenal sebagai anak yang mandiri dan berprestasi. Terlebih, barang-barang esensial seperti pengisi daya ponsel dan STNK motor sengaja ditinggalkan di rumah.

"Waktu pamit pergi itu tidak ada masalah apa pun dengan keluarga. Pergi itu hanya membawa tas kecil saja, STNK tidak dibawa, charger ponselnya saja ditinggal. Dia tidak mungkin pergi sendiri pasti dibantu orang lain. Dari kecil anaknya itu sudah mandiri, baik, berprestasi, tidak pernah aneh-aneh," tegas Singgih, Ayah Korban.

Singgih mengingat pula penemuan awal identitas anaknya yang diserahkan oleh tetangga desa setelah ditemukan di jalanan. Hingga saat ini, pihak keluarga menegaskan bahwa penemu barang-barang tersebut tidak berkaitan dengan peristiwa hilangnya korban.

"Penemu ponsel tidak ada hubungannya dengan hilangnya anak saya," ujar Singgih, Ayah Korban.

Pihak keluarga menyatakan tetap menaruh harapan besar agar anak mereka bisa ditemukan dalam kondisi selamat. Singgih menyampaikan pesan terbuka dengan harapan putrinya dapat mendengar dan segera kembali ke rumah.

"Saya minta kalau Mozza lihat ini. Pulang, nak, sini ke rumah, kita kumpul lagi, kita jalan-jalan lagi. Kasihan ibu sama adik kamu.

Pulang, nak. Saya percaya anak saya masih hidup dan dalam kondisi selamat," kata Singgih, Ayah Korban.

Lebih lanjut, Singgih mengingat saat-saat terakhir sebelum putrinya pergi mengendarai sepeda motor Honda Vario. Menurutnya, korban tidak menunjukkan gelagat aneh dan berpamitan secara wajar seperti biasanya.

"Dia pamit baik-baik. Tapi ternyata pergi sendiri, tidak bawa laptop. Biasanya kalau keluar rumah selalu mengirim foto ke saya," kata Singgih, Ayah Korban.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed