Banyak Perusahaan Evaluasi Penggunaan AI dan Kembali Rekrut Manusia

Smallest Font
Largest Font

Riset terbaru Forrester Research mengungkapkan sebanyak 55 persen perusahaan mengaku menyesal telah memberhentikan karyawan demi mengoptimalkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan kini mulai merekrut pekerja manusia kembali. Laporan tersebut mencatat sebagian organisasi diam-diam membatalkan pemutusan hubungan kerja (PHK) berbasis AI, meski sebagian posisi yang dikembalikan berpotensi dialihkan ke luar negeri (offshore) atau ditawarkan dengan tingkat upah lebih rendah. Perusahaan otomotif Ford kembali merekrut lebih dari 350 teknisi setelah sebelumnya dinilai terlalu mengandalkan AI dalam pengembangan kendaraan, sementara perusahaan teknologi finansial Klarna dan produsen komputer IBM turut membuka kembali lowongan kerja setelah sempat memangkas ribuan staf.

Di tengah tren pembatalan pemangkasan tenaga kerja tersebut, CEO Klarna Sebastian Siemiatkowski menyampaikan evaluasi atas kebijakan penggunaan teknologi di perusahaannya.

"Perusahaan kebablasan menggunakan AI," kata Siemiatkowski, CEO Klarna. Di sisi lain, kekhawatiran pekerja terhadap dampak otomasi tetap tinggi, sebagaimana dicatat Software Finder 2026 bahwa 53 persen pekerja merasa peran mereka terancam, sementara jajak pendapat Reuters Ipsos menunjukkan 53 persen warga Amerika Serikat mengkhawatirkan kelangsungan pekerjaan anggota keluarga mereka.

Analis dari Gartner, Jackie Swanson, menilai banyak organisasi belum memiliki perencanaan yang matang mengenai dampak jangka panjang adopsi teknologi tersebut terhadap sumber daya manusia. "Setiap organisasi memiliki peta jalan adopsi AI. Namun, hampir tidak ada yang memiliki rencana jujur mengenai apa yang dilakukan AI terhadap karyawan, kecepatan kerja, dan calon pemimpin mereka di masa depan," kata Swanson, Analis Gartner.

Sebagian perusahaan seperti Ironclad dan Superhuman memilih pendekatan adaptif dengan melatih karyawan serta memberikan kebebasan dalam memilih perangkat pendukung, tanpa menerapkan instruksi sepihak dari tingkatan manajemen puncak. Chief People Officer Superhuman, Kenny Mendes, menjelaskan filosofi di balik strategi penggunaan teknologi di lingkungan kerjanya. "Kami tidak memulainya dengan mandat AI dari atas ke bawah," kata Mendes, Chief People Officer Superhuman.

Dari ranah regulasi, Uni Eropa memperketat perlindungan pekerja lewat Directive 2025/2450 yang mewajibkan perusahaan berkonsultasi dengan pekerja sebelum mengambil keputusan teknologis mendasar, dengan tenggat penerapan hukum nasional pada 1 Januari 2028.

Pendiri Microsoft, Bill Gates, mengusulkan penerapan pajak baru bernama token tax untuk perusahaan yang menggantikan manusia dengan AI guna mendanai pelatihan ulang pekerja dan jaring pengaman sosial, serta memunculkan konsep Human Reserved untuk pekerjaan tertentu. "Sistem pajak mendorong perusahaan untuk mengganti manusia dengan mesin," kata Gates, Pendiri Microsoft. Di tingkat individu, mantan karyawan eBay Linara Bozieva memilih membangun agensi pemasaran Ravenopous di San Jose dengan memanfaatkan 27 agen AI yang menangani pembuatan iklan hingga analisis data dengan biaya operasional di bawah 1.000 dollar AS per bulan.

Bozieva menekankan bahwa keterlibatan serta keahlian pengawasan dari manusia tetap menjadi faktor penentu dalam mengambil keputusan strategis bisnis.

"Rasanya sepadan untuk mulai membangun sesuatu yang kecil, setidaknya selama beberapa tahun, guna menghidupi saya dan keluarga," kata Bozieva, Pendiri Ravenopous.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed