Penyerapan Lulusan Vokasi Capai 77 Persen Lampaui Sarjana
Kemendiktisaintek mencatat tingkat penyerapan tenaga kerja lulusan perguruan tinggi vokasi mencapai 77 persen, lebih tinggi dibandingkan lulusan perguruan tinggi akademik S1 sebesar 72 persen pada acara Talkshow Pionir Permadani di UGM, Jumat (7/8/2026), dilansir dari Detikcom.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengungkapkan data tersebut berdasarkan hasil tracer study periode 2021 hingga 2024. Tingginya angka penyerapan ini mematahkan anggapan bahwa lulusan pendidikan vokasi sulit diserap pasar kerja.
"Jadi penyerapan ke tenaga kerja vokasi lebih tinggi dari pada lulusan akademik S1," kata Stella.
Pendidikan vokasi dinilai memegang peranan paling vital dalam merespons dinamisnya pasar kerja serta memenuhi kualifikasi tenaga kerja terampil yang siap pakai bagi industri dan investor.
"Perguruan tinggi vokasi paling utama perannya untuk merespon pasar kerja," ungkap Stella.
Penguatan lulusan vokasi memberikan kontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi nasional. Ketersediaan tenaga terampil yang sesuai kebutuhan industri saat ini menjadi alasan utama investor mempertahankan bisnis mereka.
"Per hari ini, industri dan pasar membutuhkan tenaga kerja terampil yang siap kerja," tutur Stella.
Tren keberhasilan penyerapan lulusan vokasi juga terjadi di tingkat global, seperti Shenzhen Polytechnic University di Tiongkok yang bermitra dengan Huawei dan BYD. Kontribusi lulusan vokasi di kawasan Shenzhen, Hong Kong, dan Guangzhou mampu mendorong pendapatan hingga 2,15 triliun USD, melebihi output ekonomi Indonesia sebesar 1,55 triliun USD.
"Inilah mengapa saya sebut vokasi kunci masa depan Indonesia," tegas Stella.
Lulusan vokasi di negara seperti Swiss dan Korea Selatan juga mampu meraih penghasilan hingga 102.114 Swiss Franc atau sekitar Rp2 miliar karena perekonomian negara tersebut ditopang oleh sektor vokasi yang kuat.
"Karena mereka tahu perekonomian mereka tidak akan bisa maju tanpa vokasinya yang kuat," tutur Stella.
Sebagai langkah penguatan internal, Kemdiktisaintek menerapkan tiga pilar utama meliputi industry match curriculum, industry match instructors, serta industry match infrastructure. Salah satu realisasi program ini adalah kerja sama dengan perusahaan multinasional Tiongkok, LiuGong, yang memberikan beasiswa dan fasilitas magang bagi mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow