Penembakan di Sekolah Nonthaburi Tewaskan Delapan Orang
Insiden penembakan massal terjadi di Sekolah Debsirin Nonthaburi, Thailand, pada Jumat (7/8), menewaskan delapan orang termasuk pelaku, seorang siswa berusia 14 tahun. Kejadian ini menyebabkan sejumlah siswa dan guru terluka dan panik.
Pelaku yang merupakan siswa kelas 9 diduga menembak guru dan sesama siswa sebelum mengakhiri hidupnya. Korban tewas termasuk lima guru serta kakek dan nenek pelaku yang ditembak di rumahnya terlebih dahulu.
Kepolisian Thailand menyatakan pelaku menggunakan pistol kaliber 9 mm milik kakeknya, yang memiliki izin resmi. Senjata tersebut ditemukan di kamar tidur kakek pelaku yang berusia 73 tahun. Sang nenek berusia 74 tahun juga menjadi korban tembakannya.
Setelah membunuh kakek-neneknya sekitar pukul 05.00 waktu setempat, pelaku membawa senjata dan peluru ke sekolah. Ia mulai menembak sekitar pukul 10.00 saat pelajaran berlangsung, terutama menargetkan guru di lantai enam sebelum menembak wakil kepala sekolah dan sekretaris kepala sekolah di tangga.
Polisi yang tiba di lokasi menemukan pelaku sudah menembak dirinya sendiri sekitar pukul 10.40. Sebanyak lima orang meninggal di tempat dan sedikitnya 22 orang mengalami luka-luka, termasuk seorang pelajar yang kemudian meninggal dunia.
Seorang siswa menyatakan awalnya mengira suara tembakan adalah petasan. Ia dan teman-temannya melarikan diri dengan memanjat pagar sekolah untuk menyelamatkan diri.
Seorang guru di sekolah menggambarkan pelaku sebagai anak yang baik dan berprestasi tanpa riwayat agresif. Namun Wakil Menteri Dalam Negeri Thailand, Polapee Suwanchawee, menyatakan pelaku diduga sangat gemar bermain gim dan tinggal bersama kakek-neneknya karena orang tua bercerai.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengungkapkan pelaku dalam kondisi stres dan telah merencanakan aksi tersebut. Ia berjanji akan mengajukan undang-undang baru yang membatasi kepemilikan dan pembawaan senjata api hanya untuk pejabat pemerintah yang bertugas.
Thailand memiliki tingkat kepemilikan senjata api sipil tertinggi di Asia Tenggara dengan sekitar 10,3 juta pucuk senjata, di mana sebagian besar terdaftar legal, namun masih banyak yang ilegal. Pakar menilai regulasi saat ini memiliki celah besar, terutama dalam pemeriksaan kesehatan mental pemohon lisensi senjata.
Peristiwa ini menjadi penembakan di sekolah kedua di Thailand pada tahun 2026, setelah insiden serupa pada Februari lalu di wilayah selatan negara tersebut. Kasus ini kembali menimbulkan debat mengenai pengawasan senjata api di Thailand.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow