Pemerintah Singapura Berikan Tunjangan Hampir Rp 1 Miliar per Anak untuk Dorong Kelahiran
Pemerintah Singapura meluncurkan kebijakan baru berupa tunjangan hampir Rp 1 miliar per anak warga negara untuk mendukung perkembangan keluarga dan mendorong peningkatan angka kelahiran yang menurun tajam, dilansir dari Detik Finance.
Jumlah kelahiran bayi pada 2025 tercatat hanya 29.864, turun 11,4% dari 33.703 kelahiran pada 2024, menurut laporan Pendaftaran Kelahiran dan Kematian 2025 yang dirilis oleh Otoritas Imigrasi dan Pemeriksaan Perbatasan (ICA).
Angka kematian mendekati angka kelahiran dengan selisih 3.365, terendah sepanjang sejarah dan jauh menurun dibandingkan selisih 22.323 pada 2015, menunjukkan sebuah tantangan demografis yang serius.
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyatakan, "Kami punya tujuan untuk lebih dari sekadar perbaikan bertahap atau perubahan pada skema individual. Kami ingin melakukan perubahan mendasar dalam hal cara kami mendukung keluarga."
PM Wong menyampaikan hal tersebut dalam pidato Rapat Umum Hari Nasional ketiganya pada 23 Agustus 2026, menegaskan komitmen pemerintah dalam perubahan kebijakan keluarga.
Pemerintah memperkenalkan SG Child Support Package senilai S$ 62.000, yang akan diperluas kepada semua anak Singapura lahir pada 2026 atau berusia satu hingga 17 tahun pada tahun tersebut.
Paket ini mencakup Baby Gift tunai sebesar S$ 10.000, Child Credits sebesar S$ 32.000, hibah awal Child Development Account (CDA) S$ 5.000, kontribusi pendampingan pemerintah hingga S$ 5.000, serta top-up S$ 10.000 ke rekening Post-Secondary Education Account (PSEA) anak.
Dengan paket baru ini, setiap anak Singapura akan menerima dukungan finansial hampir S$ 70.000 atau sekitar Rp 976,21 juta, naik signifikan dari sebelumnya yang berkisar antara S$ 27.500 hingga S$ 56.500 tergantung urutan kelahiran.
PM Wong juga mengumumkan penambahan cuti mengurus anak dengan biaya cuti yang ditanggung pemerintah hingga batas penggantian tertentu, mengurangi beban keuangan pengusaha.
"Kami meminta para pemberi kerja untuk turut berperan dengan mendukung staf yang merupakan orang tua," ujar Lawrence Wong, menambahkan bahwa menjadi orang tua tidak seharusnya menjadi kerugian dalam karier seseorang.
Penurunan angka kesuburan total (TFR) Singapura menjadi 0,87 pada 2025 dari 1,41 pada 2001 menjadi latar belakang kebijakan ini, di mana sebelumnya berbagai insentif kelahiran kurang efektif setelah dua dekade diterapkan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow