Pemerintah dan Himpunan Peritel Dorong Wisata Belanja Nasional

Smallest Font
Largest Font

Pemerintah bersama Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia mendorong pengembangan potensi wisata belanja domestik guna memperkuat konsumsi nasional di tengah ancaman penurunan omzet ritel pada periode September hingga November 2026.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan dalam ajang Indonesia Retail Summit and Expo 2026 di Jakarta bahwa pengeluaran wisatawan nasional ke luar negeri mencapai 6,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp118,66 triliun sepanjang Semester I 2026.

"Tentu di berbagai negara, tujuan dari wisatawan sebagian adalah kuliner dan belanja. Jadi ini tentu perlu didorong supaya mereka belanja di Indonesia saja. Dan kita berharap bahwa ini juga bisa memanfaatkan wisata belanja sebagai motor pertumbuhan baru," ujar Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Airlangga menambahkan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari hingga Juni 2026 tumbuh 5,71 persen secara tahunan mencapai 7,45 juta kunjungan, sementara perjalanan wisatawan nusantara tumbuh 2,71 persen menjadi 630,41 juta perjalanan.

"Dan kita melihat pembayaran jasa perjalanan wisatawan ke luar negeri itu mencapai US$6,7 billion (miliar). Jadi tentu ini kalau sebagian bisa ditarik untuk belanja di dalam negeri ini juga hal yang baik," kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Ia menuturkan bahwa sektor ritel Indonesia tetap menunjukkan daya tahan di tengah berbagai gejolak ekonomi dan konflik internasional.

"Momentum daripada pasar dalam negeri ini membuktikan walaupun di Timur Tengah masih ada perang di Selat Hormuz, kemudian Ukraine juga belum selesai, kemudian di tengah perang dagang dengan juga Amerika dengan China, retail Indonesia menunjukkan resiliensi dan bertahan untuk menopang perekonomian nasional," ujar Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Untuk menggerakkan ekosistem ritel hingga ke daerah pedesaan, pemerintah melibatkannya bersama Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih demi memperluas akses pasokan barang bersubsidi dan penyerapan hasil daerah.

"Bapak Presiden juga mendorong agar retail ini tidak hanya di kota-kota besar ataupun di urban, tetapi masuk juga di pedesaan. Oleh karena itu pemerintah mendorong Koperasi Merah Putih agar barang retail yang disubsidi pemerintah juga bisa tersedia di lapangan. Sekaligus mempunyai tugas sebagai agen untuk membeli barang-barang hasil pertanian ataupun perikanan di daerah masing-masing," jelas Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Airlangga menegaskan pentingnya keterkaitan erat antara jaringan distribusi ritel dan sektor manufaktur lokal.

"Dan terus pemerintah mendorong sinergi antara retail, dan harapannya tentu barang yang didorong di retail itu juga barang yang diproduksi di dalam negeri," pungkas Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan bahwa transformasi perdagangan harus menghubungkan seluruh elemen rantai pasok dan pembayaran digital.

"Transformasi perdagangan tidak hanya berbicara mengenai peningkatan aktivitas belanja, tetapi juga bagaimana menciptakan ekosistem yang menghubungkan konsumen, pelaku usaha, produsen dalam negeri, hingga sistem pembayaran dan distribusi. Dengan ekosistem yang semakin terintegrasi, potensi wisata belanja dan konsumsi domestik dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional," ujar Haryo Limanseto, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Sementara itu, Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah mengungkapkan adanya kekhawatiran pelaku usaha ritel terhadap masa sepi penjualan menjelang akhir tahun sehingga pembukaan pasar ekspor bagi produsen menjadi langkah antisipasi yang disiapkan.

"Kita akan coba membuka pasar ekspor untuk para teman-teman produsen. Itu adalah tanggung jawab daripada kami juga selaku offtaker. Ke depan ini bulan-bulan sepi mulai bulan sembilan (September), sepuluh (Oktober), sebelas (November) harus ada upaya dari kita untuk meningkatkan penjualan," kata Budihardjo Iduansjah, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia.

Budihardjo menyebutkan koordinasi telah dilakukan dengan Kementerian Perdagangan untuk mencegah dampak penurunan arus kunjungan belanja terhadap sektor turunan seperti perhotelan.

"Tadi sudah melapor ke Pak Mendag (Budi), habis ini kita harus melakukan sesuatu kalau tidak nanti hotel-hotel juga sepi," ujarnya Budihardjo Iduansjah, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia.

Ia menekankan kelangsungan usaha ritel fisik memerlukan stabilitas iklim ekonomi serta dukungan kebijakan dari pemerintah.

"Sektor offline sangat bergantung sama offline-nya, harus ada traffic, harapan kami bisa ada dukungan dari pemerintah agar ekonomi stabil, politik pasti stabil," katanya Budihardjo Iduansjah, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia.

Budihardjo berkomitmen menjaga ketersediaan pasokan barang, keterjangkauan harga, serta penciptaan lapangan kerja secara berkelanjutan.

"Jadi kita akan berjuang agar lapangan kerja tercipta, membuka banyak toko, mendistribusikan barang, memastikan harga-harga stabil, stok semua ada. Untuk itu kita butuh kerja sama dengan semua stakeholder," ujar Budihardjo Iduansjah, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia.

Terkait sektor pariwisata, ia menilai Indonesia telah memiliki daya tarik objek wisata dan kuliner yang kuat, namun masih tertinggal dalam penarikan wisatawan untuk berbelanja.

"Selain itu faktor pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kedua adalah sektor pariwisata. Dan kunci pariwisata selalu bicara tiga hal utama, objek wisatanya, kulinernya, dan shopping. Indonesia memiliki dua hal pertama, objek wisata yang bagus dan kuliner yang bervariasi dan sangat enak. Tetapi sayangnya jarang sekali turis ke Indonesia untuk berbelanja," kata Budihardjo Iduansjah, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia.

Kondisi kurs rupiah belakangan ini dinilai membuat harga barang di Indonesia relatif lebih murah dan kompetitif bagi konsumen luar negeri.

"Baru belakangan ini aja ramai dengan berbelanja karena satu penyebab utama yang sebenarnya kita suarakan juga ke pemerintah yaitu sekarang belanja di Indonesia lebih murah. Ya, sayangnya tapi ini karena kurs rupiah Indonesia yang relatif melemah," ucap Budihardjo Iduansjah, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia.

Budihardjo menyoroti kecenderungan masyarakat Indonesia yang gemar membeli produk Merek internasional di luar negeri padahal produk tersebut sudah tersedia di dalam negeri.

"Apalagi kalau kita melihat orang Indonesia kalau ke luar negeri itu kalau belanja juga gila-gilaan. Dan sayangnya mereka belanja banyakan juga merek-merek global yang sayangnya juga sebenarnya udah ada di Indonesia juga. Tapi kenapa mereka belanja di luar negeri, enggak di Indonesia? Ya, karena kelengkapan barang, harga, dan variasinya," imbuh Budihardjo Iduansjah, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia.

Oleh sebab itu, pihaknya mengharapkan adanya kemudahan impor bagi merek-merek global berizin agar persediaan barang di pasar domestik semakin lengkap.

"Kita punya merek juga enggak kalah, namun kami juga mengharapkan dukungan terhadap merek-merek luar yang sudah berkontribusi di Indonesia untuk membuka toko, menciptakan lapangan pekerjaan, membayar pajak, dapat diberikan kemudahan," ujarnya Budihardjo Iduansjah, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia.

Upaya harmonisasi ini diharapkan dapat menyukseskan gerakan belanja di dalam negeri.

"Posisi Hippindo akan memastikan harmonisasi antara merek lokal dan global bersama-sama dan seperti kemudahan impor, kemudahan-kemudahan produk luar negeri yang branded bisa dijual di Indonesia sehingga mendatangkan turis, program Belanja di Indonesia Aja bisa berjalan," tuturnya Budihardjo Iduansjah, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Hippindo Haryanto Pratantara menyoroti peran konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari 50 persen pertumbuhan ekonomi nasional.

"Karena pertumbuhan ekonomi Indonesia itu sangat ditentukan oleh konsumsi dalam negeri yang porsinya lebih dari 50 persen. Dan kalau bicara konsumsi dalam negeri tentu tidak lepas dari sektor utama pendorongnya yaitu retail," imbuh Haryanto Pratantara, Sekretaris Jenderal Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia.

Haryanto menilai sektor ritel sering kali luput dikategorikan sebagai industri padat karya padahal menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar.

"Selain itu, ritel merupakan sektor yang sangat padat karya yang menyerap jutaan tenaga kerja. Tapi sayangnya sering terlupakan bahwa kalau ritel ini padat karya, karena biasanya definisi padat karya ini dikaitkan ke industri manufaktur," ujarnya Haryanto Pratantara, Sekretaris Jenderal Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia.

Guna menopang efisiensi operasional dan sistem keuangan pelaku usaha ritel, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menghadirkan platform perbankan digital Qlola by BRI yang menyediakan fitur pengelolaan kas, pengiriman dana massal, hingga penanganan rantai pasok.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed