Pasar Keuangan Nanti Sinyal Kebijakan Moneter BI di RDG Agustus

Smallest Font
Largest Font

Pelaku pasar keuangan dan dunia usaha menantikan sinyal Bank Indonesia (BI) mengenai arah kebijakan moneter dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta pada 18–19 Agustus 2026, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Perhatian investor kini bergeser dari sekadar keputusan BI-Rate ke strategi bank sentral setelah melancarkan serangkaian langkah stabilisasi rupiah dan penarikan modal asing.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai kebijakan moneter nasional telah memasuki fase baru seusai kenaikan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin sejak Mei lalu.

"Menurut kami, fokus pasar pada RDG Agustus bukan lagi sekadar apakah BI-Rate naik atau ditahan. Yang lebih penting adalah bagaimana Bank Indonesia menjelaskan langkah berikutnya setelah fase stabilisasi yang cukup agresif selama beberapa bulan terakhir," ujar Fakhrul dalam catatannya, Selasa (18/8/2026).

Pasar keuangan secara khusus bakal mencermati empat prioritas komunikasi BI, meliputi potensi normalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan instrumen operasi moneter lainnya.

"Pasar ingin mengetahui apakah Bank Indonesia mulai melihat ruang untuk bertransisi dari fase menarik likuiditas menuju fase normalisasi likuiditas. Ini penting karena akan mempengaruhi perbankan, pasar obligasi, dan biaya pendanaan secara keseluruhan," jelasnya.

Fakhrul menambahkan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah saat ini cenderung lebih stabil jika dibandingkan dengan periode tekanan pada kuartal II-2026, meskipun risiko global tetap membayangi.

"Pasar akan membaca dengan sangat hati-hati bagaimana Bank Indonesia menggambarkan kondisi rupiah saat ini. Apakah fokus utama masih mempertahankan stabilitas nilai tukar atau mulai bergeser untuk mendukung pemulihan pertumbuhan ekonomi," katanya.

Selain itu, pelaku pasar memantau keberlanjutan insentif untuk memikat arus modal asing agar dapat disalurkan secara efektif ke sektor riil.

"Fase pertama adalah mendapatkan kembali kepercayaan investor global. Fase berikutnya adalah memastikan likuiditas tersebut dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat," ujarnya.

Faktor lain yang turut diantisipasi pasar adalah evaluasi BI terhadap kondisi likuiditas perbankan serta transmisi kebijakan guna melonggarkan tekanan penyaluran kredit.

"Bank sentral sering berkomunikasi bukan hanya melalui suku bunga, tetapi melalui perubahan bahasa. Karena itu pasar akan membaca setiap kalimat dalam pernyataan RDG Agustus. Investor ingin mengetahui apakah Indonesia masih berada dalam fase mempertahankan stabilitas atau mulai memasuki fase mempersiapkan pemulihan pertumbuhan," katanya.

Dinamika eksternal seperti peredaan inflasi di Amerika Serikat, pergerakan imbal hasil obligasi AS jangka panjang, hingga perlambatan ekonomi China turut mempengaruhi perhitungan arah kebijakan moneter BI.

"Pada akhirnya, yang ditunggu pasar bukan hanya keputusan BI-Rate. Yang ditunggu adalah peta jalan kebijakan moneter Indonesia untuk beberapa kuartal ke depan," tutup Fakhrul.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed