Nyamuk Aedes Aegypti Tetap Berkeliaran Musim Kemarau

Smallest Font
Largest Font

Keluhan mengenai maraknya gangguan nyamuk marak disampaikan netizen di media sosial saat Indonesia memasuki musim kemarau. Fenomena ini terasa tidak biasa karena serangga pengisap darah umumnya identik dengan musim hujan. Sejumlah riset menunjukkan kemarau tidak serta-merta menghentikan aktivitas nyamuk.

Telur nyamuk Aedes aegypti, penular demam berdarah dengue (DBD), memiliki daya tahan luar biasa terhadap kondisi kering, dilansir dari Detik iNET. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa Aedes aegypti kerap berkembang biak di wadah air sekitar pemukiman. Telur spesies ini sanggup bertahan hidup berbulan-bulan dalam kondisi sangat kering.

Kutipan langsung dari WHO menegaskan kemampuan adaptasi tersebut.

"Telur dapat bertahan dalam kondisi sangat kering dan hidup selama berbulan-bulan," demikian penjelasan WHO mengenai Aedes aegypti. Saat air kembali menggenang, telur tersebut akan menetas. Hal ini membuktikan bahwa siklus hidup nyamuk tidak terputus meski hujan berhenti.

Temuan ini diperkuat studi dalam Journal of Vector Ecology yang menguji telur Aedes aegypti selama 367 hari. Kelangsungan hidup telur berada di atas 88% hingga hari ke-56, dan 2-15% masih hidup setelah satu tahun. Studi di PLOS Biology pada 2023 mengungkap perubahan metabolisme embrio, termasuk pemanfaatan lipid, sebagai mekanisme pertahanan air. Telur yang menempel di dinding ember atau pot tetap bertahan menunggu air.

Dampak Cuaca Panas pada Perkembangbiakan

Kondisi hangat dan kering memberikan keuntungan ekologis bagi Aedes aegypti dibanding spesies pesaingnya seperti Aedes albopictus. Populasi Aedes aegypti justru meningkat seiring kenaikan temperatur rata-rata dan durasi musim kering.

Riset preprint Januari 2026 mencatat populasi nyamuk perkotaan yang menyukai manusia memiliki toleransi kekeringan lebih tinggi. Temperatur musim kering menjadi faktor pemprediksi ketahanan telur tersebut.

Suhu udara yang meningkat juga mempercepat proses pendewasaan nyamuk. Eksperimen mencatat perkembangan larva menjadi dewasa memakan waktu 39,7 hari pada suhu 15 derajat Celsius, namun singkat menjadi 7,2 hari pada 35 derajat Celsius.

Pencegahan di Lingkungan Rumah

Masyarakat cenderung menampung lebih banyak air saat musim kemarau. Wadah seperti ember, bak mandi, vas bunga, dispenser, hingga ban bekas dapat menjadi sarang perkembangbiakan jika tidak tertutup rapat.

Pemeriksaan rutin terhadap penampungan air tetap diperlukan meskipun tidak ada hujan. WHO menganjurkan wadah air dikosongkan, dibersihkan, dan digosok minimal seminggu sekali untuk membasmi telur menempel.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed