ManageEngine Dorong Perusahaan Bangun Cyber Resilience Sistem TI

Smallest Font
Largest Font

Manajemen risiko siber kini menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi bisnis dan finansial perusahaan di Indonesia, seiring melonjaknya ancaman malware serta potensi timbulnya downtime operasional, seperti dilansir dari Investor Daily.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mendata sekitar 5,2 miliar anomali trafik internet terjadi sepanjang 2025. Sebagian besar anomali tersebut didominasi oleh ancaman malware yang berisiko berkembang menjadi serangan ransomware.

Technical Manager ManageEngine Indonesia, Hanief Bastian menilai bahwa lonjakan insiden keamanan tersebut mewajibkan setiap organisasi untuk melengkapi strategi pencegahan dengan kemampuan pemulihan sistem yang adaptif.

"Ekosistem TI sekarang jauh lebih kompleks dibandingkan lima atau sepuluh tahun lalu. Dulu, ketika memonitor sistem, kita masih relatif mudah mengetahui batas antara lingkungan internal dan eksternal. Sekarang ada cloud, tenaga kerja hibrida yang bekerja dari mana saja, vendor, serta supply chain yang bisa mengakses lingkungan organisasi. Akibatnya, attack surface makin luas," kata Hanief Bastian, Technical Manager ManageEngine Indonesia.

Perluasan titik akses ini dinilai memicu celah masuk bagi pihak luar, sehingga upaya pengamanan tidak dapat lagi berfokus pada pencegahan semata.

"Makin banyak titik yang berpotensi ditembus peretas dan semakin banyak pihak yang bisa menjadi entry point. Ancaman tidak hanya datang dari pengguna atau karyawan, tetapi juga bisa berasal dari vendor. Karena itu, pendekatan yang hanya mengandalkan pencegahan atau prevention only sudah tidak cukup," ujar Hanief Bastian.

Persiapan skenario darurat dinilai sangat mendesak demi meminimalisasi gangguan pada operasional harian.

"Kita harus berasumsi bahwa suatu saat serangan bisa terjadi. Organisasi perlu menyiapkan incident response plan dan membangun cyber resilience," tegas Hanief Bastian.

Perbedaan mendasar antara pertahanan awal dan respons saat sistem terbobol menjadi fokus utama pemulihan bisnis.

"Cybersecurity tetap dibutuhkan untuk membangun pertahanan. Namun, cyber resilience melihat apa yang harus dilakukan ketika pertahanan tersebut berhasil ditembus," tambah Hanief Bastian.

Implementasi ketahanan siber bertujuannya untuk menjaga kesinambungan layanan perusahaan saat gangguan benar-benar melanda.

"Ketika insiden atau serangan terjadi, organisasi harus tahu bagaimana merespons dan bagaimana operasional tetap berjalan. Jadi, pertanyaannya bukan hanya bagaimana mencegah serangan, tetapi bagaimana perusahaan tetap beroperasi ketika serangan benar-benar terjadi," jelas Hanief Bastian.

Tinggi anomali trafik yang dirilis BSSN mencerminkan besarnya potensi kerugian bisnis yang harus ditanggung organisasi.

"Risiko siber saat ini sudah menjadi risiko bisnis dan finansial, bukan hanya risiko teknologi. Anomali tersebut banyak berkaitan dengan malware yang bisa berkembang menjadi ransomware," kata Hanief Bastian.

Kerugian tersebut berdampak pada penurunan performa finansial hingga reputasi publik.

"Ketika ransomware terjadi, ada berbagai potensi kerugian yang dihadapi perusahaan. Bisa ada biaya pemulihan, kemungkinan kehilangan omzet karena downtime, serta risiko hilangnya kepercayaan pelanggan," jelas Hanief Bastian.

Langkah mitigasi risiko membutuhkan keterlibatan langsung pimpinan eksekutif dalam mengambil tindakan cepat.

"Karena itu, prioritas direksi adalah mengurangi potensi kerugian. Caranya antara lain dengan memiliki visibilitas yang lebih menyeluruh, melakukan deteksi dini, dan mempercepat respons terhadap insiden," ujar Hanief Bastian.

Fungsi ketahanan siber meluas hingga menjaga aset tak berwujud seperti kepercayaan para investor.

"Cyber resilience bukan hanya perlindungan operasional, tetapi juga perlindungan terhadap pendapatan, reputasi, dan kepercayaan pelanggan maupun investor," tegas Hanief Bastian.

Tingkat kerumitan infrastruktur teknologi menjadi hambatan terbesar yang dihadapi berbagai organisasi saat ini.

"Kompleksitas. Attack surface makin luas sehingga makin banyak titik yang dapat dimanfaatkan penyerang. Karena itu, organisasi membutuhkan visibilitas terhadap komponen-komponen penting," kata Hanief Bastian.

Pemetaan komponen mendesak dilakukan agar alokasi pemantauan dapat diprioritaskan pada aset kritis.

"Bukan berarti semua komponen harus dipantau dengan kedalaman yang sama. Tetapi organisasi harus mengetahui aset atau sistem mana yang kritis. Visibilitas tersebut akan membantu pengambilan keputusan dan respons ketika terjadi insiden," tambah Hanief Bastian.

Pemeriksaan kesiapan internal menjadi langkah awal dalam mengukur tingkat kematangan pertahanan organisasi.

"Pertama, organisasi perlu melakukan asesmen. Misalnya, apakah sudah memiliki incident response plan? Apakah rencana tersebut disimulasikan secara berkala?" tanya Hanief Bastian.

Pelatihan berkala diperlukan agar seluruh tim bertindak dengan sigap ketika serangan siber terjadi.

"Simulasi sangat penting karena ketika insiden benar-benar terjadi, organisasi sudah lebih siap. Secara umum, organisasi dapat melihat tingkat kematangannya dari beberapa tahapan," tutur Hanief Bastian.

Perkembangan tingkat kematangan siber bergerak dari penanganan masalah hingga pencegahan yang terintegrasi sejak awal.

"Tahap paling dasar adalah reaktif. Kemudian menjadi proaktif ketika sudah memiliki incident response plan. Setelah itu, organisasi mulai mampu melakukan deteksi otomatis," jelas Hanief Bastian.

Teknologi modern seperti kecerdasan buatan dimaksimalkan untuk mendukung pertahanan yang presisi dan prediktif.

"Tahap berikutnya menjadi adaptif, antara lain dengan memanfaatkan AI. Kemudian menuju tahap resilience, ketika operasional sudah dibangun dengan prinsip ketahanan sejak awal atau by design. Pada tahap tersebut, perusahaan juga bisa menjadi lebih prediktif menghadapi insiden," lanjut Hanief Bastian.

Potensi keterpaparan ancaman tidak lagi terbatas pada sektor-sektor tertentu melainkan seluruh sektor bisnis.

"Serangan tidak hanya berfokus pada sektor perbankan atau jasa keuangan. Pada dasarnya semua organisasi memiliki risiko. Yang membedakan adalah seberapa siap mereka mencegah ancaman dan seberapa cepat mereka merespons ketika insiden terjadi," kata Hanief Bastian.

Penerapan prosedur standar pertahanan terbukti mampu menekan efektivitas dampak dari insiden keamanan.

"Kalau organisasi sudah menerapkan praktik terbaik dalam cyber defense dan cyber resilience, mereka akan lebih mampu bertahan," tambah Hanief Bastian.

Tingkat kesiapan perusahaan di Indonesia dinilai masih sangat bervariasi bergantung pada kapasitas investasi masing-masing.

"Kondisinya berbeda-beda. Sebagian perusahaan besar sudah relatif siap," tutur Hanief Bastian.

Kelompok korporasi besar umumnya dibekali dengan alokasi anggaran, regulasi internal, serta sosialisasi terstruktur.

"Mereka mampu berinvestasi pada teknologi cybersecurity, memiliki kebijakan cyber resilience, menjalankan proses yang lebih baik, dan melakukan edukasi secara berkala kepada karyawan maupun pengguna," terang Hanief Bastian.

Sedangkan organisasi yang baru mengadopsi sistem keamanan kerap menemui kendala trial and error.

"Namun, organisasi yang baru memulai perjalanan keamanan siber masih mengalami proses hit and miss. Karena itu, edukasi mengenai praktik terbaik tetap penting," ujar Hanief Bastian.

Penggunaan perangkat lunak dari beragam penyedia berpotensi memicu lonjakan biaya operasional.

"Ya, karena salah satu biaya terbesar dalam TI sering kali berasal dari kompleksitas, bukan hanya harga perangkat lunak. Fragmentasi membuat perusahaan menghadapi biaya lisensi, integrasi, dan pelatihan," kata Hanief Bastian.

Selain masalah biaya, pengolahan data yang terpisah-pisah memperlambat upaya penanggulangan insiden.

"Selain itu, incident response juga bisa menjadi lebih lambat karena informasi tersebar di banyak sistem. Ketika terjadi insiden, tim harus mengumpulkan konteks dari berbagai sumber terlebih dahulu," jelas Hanief Bastian.

Pemanfaatan sistem terpadu hadir sebagai solusi mempercepat konsolidasi data dan penanganan ancaman.

"Platform terpadu bisa membantu meningkatkan visibilitas dan mempercepat respons," tegas Hanief Bastian.

Pengadopsian sistem terpusat tidak selalu menuntut perombakan total pada infrastruktur lama yang dimiliki perusahaan.

"Tidak harus. Pendekatan integrasi bukan berarti membuang seluruh investasi yang sudah ada. Yang harus dilakukan pertama adalah memahami use case. Kemudian dilihat apakah sistem yang digunakan dapat terintegrasi satu sama lain," tutur Hanief Bastian.

Layanan ManageEngine menawarkan fleksibilitas koneksi, baik untuk sesama produknya maupun perangkat dari pihak luar.

"Untuk solusi ManageEngine, integrasi antarsolusi ManageEngine sendiri tidak dikenakan biaya tambahan. Solusi pihak ketiga yang sudah dimiliki pelanggan juga dapat diintegrasikan apabila secara teknis mendukung. Tujuannya adalah mendapatkan manfaat lebih besar dibandingkan jika setiap solusi berjalan sendiri-sendiri," ungkap Hanief Bastian.

Hingga saat ini, penetrasi ManageEngine di Indonesia telah menjangkau lebih dari 800 klien dari berbagai lintas industri mendasar.

"Kalau tidak salah, sudah lebih dari 800 pelanggan di Indonesia. Pelanggan berasal dari berbagai sektor seperti perbankan, jasa keuangan, manufaktur, otomotif, pertambangan, dan mineral," beber Hanief Bastian.

Kehadiran teknologi AI di satu sisi membantu sistem pertahanan, namun di sisi lain mempercanggih alat peretasan.

"AI memiliki dua sisi. Di satu sisi, AI dapat membantu organisasi dan tim cybersecurity dalam mendeteksi ancaman dan mempercepat respons. Namun, AI juga dapat dimanfaatkan oleh penyerang," ujar Hanief Bastian.

Eksploitasi AI oleh penyerang di antaranya berupa rekayasa sosial yang makin sulit diidentifikasi oleh calon korban.

"AI bisa digunakan untuk membuat email phishing yang lebih personal dan terlihat seperti komunikasi dari organisasi yang sah. Kalau pengguna tidak waspada, kemungkinan mereka tertipu menjadi lebih tinggi," kata Hanief Bastian.

Penggunaan manipulasi audiovisual hingga otomatisasi penyerangan massal turut memperbesar eskalasi ancaman siber.

"AI juga dapat digunakan untuk membuat deepfake, menirukan wajah maupun suara seseorang untuk mendapatkan informasi atau data pribadi. Selain itu, AI dapat digunakan untuk mengotomatisasi serangan dalam skala besar. Jadi, teknologi yang membantu pertahanan juga dapat meningkatkan kemampuan penyerang," papar Hanief Bastian.

Perkembangan teknologi komputasi kuantum turut diproyeksikan menjadi tantangan baru bagi ketahanan data masa depan.

"Kita juga semakin sering mendengar tentang quantum computing. Teknologi tersebut kemungkinan akan menjadi salah satu topik besar dalam beberapa tahun ke depan," jelas Hanief Bastian.

Organisasi diimbau untuk mulai mengkaji keandalan enkripsi guna menghadapi skenario peretasan berbasis komputasi kuantum.

"Karena itu, organisasi juga perlu mulai memikirkan bagaimana pertahanan mereka akan menghadapi perkembangan teknologi tersebut, terutama apabila suatu saat dimanfaatkan oleh penyerang," lanjut Hanief Bastian.

Langkah mendesak pertama bagi manajemen perusahaan mencakup pemetaan aset dan mitigasi risiko internal.

"Pertama adalah meningkatkan visibilitas. Organisasi harus mengetahui aset, sistem, dan risiko yang dimiliki," tegas Hanief Bastian.

Prioritas berikutnya berfokus pada ketahanan sistem agar layanan operasional tidak mandek sepenuhnya saat krisis terjadi.

"Kedua adalah membangun cyber resilience sehingga operasional tetap berjalan dan pemulihan dapat dilakukan lebih cepat ketika terjadi insiden," kata Hanief Bastian.

Pemanfaatan kecerdasan buatan secara terukur difokuskan untuk membantu tim teknis mengelola kompleksitas infrastruktur TI.

"Ketiga adalah menggunakan otomatisasi dan AI secara bertanggung jawab untuk membantu tim mengelola kompleksitas. Tujuannya bukan hanya mencegah serangan, tetapi juga memastikan bisnis tetap berjalan ketika gangguan terjadi," pungkas Hanief Bastian.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed