Lulusan Informatika Menyumbang 4,6 Persen Pengangguran S1 Indonesia

Smallest Font
Largest Font

Dikutip dari Detikcom, riset Labor Market Brief Volume 7 No 7 terbitan Juli 2026 mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai serapan tenaga kerja sektor digital. Lulusan bidang studi ilmu komputer atau informatika menyumbang 4,6 persen pengangguran berpendidikan S1 di Indonesia.

Temuan yang disusun peneliti Universitas Indonesia, Muhammad Hanri, Ph D, dan Nia Kurnia Sholihah, M E, tersebut didasarkan pada data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025.

Prospek cerah di sektor teknologi ternyata belum sepenuhnya menjamin kelancaran penyerapan tenaga kerja. Pasar kerja nasional masih memperlihatkan adanya kesenjangan antara ketersediaan lulusan dan kebutuhan industri.

Di tingkat nasional, posisi ilmu komputer berada di bawah beberapa program studi lain. Jurusan manajemen menempati urutan teratas sebagai penyumbang lulusan S1 pengangguran terbanyak dengan proporsi 10,3 persen.

Selanjutnya, lulusan hukum berada di peringkat kedua dengan angka 9 persen. Posisi berikutnya diisi oleh lulusan ekonomi sebesar 8,7 persen dan bidang pendidikan sebesar 7,1 persen.

Sementara itu, lulusan akuntansi mencatatkan angka 5,1 persen. Tingkat pengangguran sarjana ini disajikan dalam riset bertajuk Kajian Perlindungan Sosial dan Tenaga Kerja.

Penyebab Lulusan Informatika Belum Terserap Optimum

Peneliti menilai persentase 4,6 persen tersebut menarik perhatian publik. Hal ini disebabkan bidang digital selama ini dipandang memiliki prospek pekerjaan yang sangat kuat.

Para peneliti menjelaskan fenomena ini dalam laporan mereka.

"Namun, meningkatnya kebutuhan terhadap keterampilan digital tidak berarti semua lulusan langsung terserap. Bidang ini mencakup program yang sangat beragam, sementara kebutuhan industri dapat berubah dengan cepat," tulis peneliti.

Beberapa faktor utama memengaruhi proses masuknya para lulusan informatika ke pasar kerja. Faktor tersebut mencakup variasi mutu pendidikan, penguasaan keterampilan praktis, hingga pengalaman kerja calon tenaga kerja.

Selain itu, jenis teknologi yang digunakan oleh tiap perusahaan turut menentukan tingkat penyerapan para sarjana komputer tersebut.

Bukan Berarti Prospek Kerja Buruk

Para peneliti menegaskan bahwa data tersebut tidak menunjukkan tingkat pengangguran per bidang studi. Angka tersebut sekadar menggambarkan proporsi bidang studi di antara total penganggur berpendidikan minimal S1.

Program studi yang mencetak lebih banyak lulusan secara alami cenderung menyumbang jumlah penganggur yang lebih besar. Oleh sebab itu, data ini tidak dapat dipakai untuk menilai suatu jurusan memiliki prospek kerja buruk.

Peneliti memberikan catatan khusus mengenai pengukuran risiko pekerjaan.

"Untuk mengukur risiko pengangguran menurut bidang studi, jumlah penganggur pada setiap bidang perlu dibandingkan dengan seluruh angkatan kerja lulusan bidang yang sama," tulis peneliti.

Proyeksi Global dan Evaluasi Perguruan Tinggi

Kondisi di Indonesia ini cukup kontras jika dibandingkan dengan proyeksi global. Laporan Occupational Outlook Handbook dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mencatat proyeksi pertumbuhan pesat.

Lapangan kerja bidang komputer dan teknologi informasi di Amerika Serikat diproyeksi tumbuh jauh lebih cepat daripada rata-rata semua pekerjaan pada rentang 2024 sampai 2034.

Pertumbuhan industri dan kebutuhan pergantian tenaga kerja diperkirakan memicu 317.700 lowongan pekerjaan. Kebutuhan ini diperuntukkan bagi lulusan ilmu komputer dan informatika dengan gaji dua kali lipat rata-rata pada Mei 2024.

Di dalam negeri, brief riset ini disajikan sekaligus merespons rencana pendirian universitas baru melalui Universitas Republik Indonesia (URI).

Pendirian kampus baru dinilai dapat diterima apabila mampu mengisi kesenjangan akses, menawarkan jurusan relevan, menjaga mutu, serta terhubung dengan strategi penciptaan lapangan kerja.

Peneliti menyampaikan masukan penting terkait penguatan sistem pendidikan tinggi nasional.

"Dalam situasi pasar kerja saat ini, memperkuat mutu perguruan tinggi yang ada, memperbaiki hubungan dengan dunia kerja, dan menciptakan lebih banyak pekerjaan berketerampilan tinggi setidaknya sama pentingnya dengan mendirikan universitas baru," tulis peneliti.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed