Longsor Es Memicu Banjir Bandang Dahsyat di Nepal dan Tibet
Guguran es dan batuan berukuran masif di area pegunungan perbatasan Nepal dan Tibet diidentifikasi sebagai pemicu utama gelombang banjir bandang yang menghancurkan permukiman warga serta berbagai fasilitas infrastruktur kawasan tersebut. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan getaran yang awalnya dikira gempa bumi magnitudo 4,4 pada pukul 08.37 waktu setempat ternyata merupakan dampak langsung dari longsoran es berkapasitas sangat besar. Longsoran tersebut setara dengan guncangan gempa magnitudo 5,2 saat meluncur deras ke aliran Sungai Lhende Khola. Tim peneliti internasional meyakini runtuhan gletser berukuran raksasa terlepas dari puncak gunung lalu membawa material lumpur dan sedimen jenuh air akibat musim hujan monsun menuju wilayah hilir.
Peningkatan suhu global dinilai turut mempercepat kerusakan struktur es di kawasan Pegunungan Himalaya, sehingga air lelehan meresap ke dalam celah batuan dan melemahkan ketahanan dinding gunung.
"Hal yang sulit dicocokkan adalah volume air yang sangat besar yang kita lihat dalam video-video yang sangat mengerikan ini," kata Daniel Shugar, Ahli Geologi dari University of Calgary di Kanada. Para ahli memperkirakan proses investigasi menyeluruh untuk memetakan penyebab pasti bencana alam ini membutuhkan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan.
"Bendungan es ini tidak ada bedanya dengan bendungan buatan," ujar Tom Robinson, Dosen Senior di University of Canterbury di Selandia Baru. Analisis citra satelit memperlihatkan ketidakberadaan danau gletser besar di hulu aliran air, sehingga potensi ledakan danau gletser dapat dikesampingkan oleh para ilmuwan.
"Jika Anda mengambil Bendungan Hoover, misalnya, Anda memiliki danau yang sangat besar di belakangnya, tetapi jika Anda tiba-tiba menghancurkan Bendungan Hoover, air itu harus pergi ke suatu tempat, dan air itu akan mengalir deras ke lembah dalam gelombang banjir yang masif," kata Tom Robinson, Dosen Senior di University of Canterbury di Selandia Baru. Kawasan Hindu Kush Himalaya mencatatkan laju kehilangan volume es dua kali lipat lebih cepat sejak tahun 2000, yang membahayakan hampir dua juta penduduk di sepanjang area hilir. "Sejauh ini, citra satelit menunjukkan bahwa tidak ada danau besar di hulu jalur banjir, yang mengindikasikan bahwa luapan danau gletser dapat dikesampingkan," kata Wolfgang Schwanghart, Profesor Geomorfologi di Freie Universität Berlin di Jerman.
Data stasiun cuaca dan pengamatan satelit CNN Weather mengonfirmasi tidak ada curah hujan ekstrem mendadak di area bencana selama sepekan terakhir, meski hujan monsun musiman tetap membuat debit air sungai berada pada level tinggi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow