Drone Termal Dikerahkan Cari 900 Pekerja Hilang Akibat Banjir Nepal

Smallest Font
Largest Font

Banjir bandang yang melanda perbatasan Nepal-China menyebabkan sekitar 900 pekerja proyek pembangkit listrik hilang, dengan 500 di antaranya diduga terjebak di dalam terowongan proyek. Upaya pencarian korban melibatkan penggunaan drone termal yang dioperasikan oleh Angkatan Darat Nepal bersama pilot Manish Maharjan, guna menjangkau lokasi sulit dan memanggil korban yang terisolasi melalui pengeras suara. Namun, pencarian di dalam terowongan terhambat oleh lumpur dan material yang memenuhi ruang tersebut, sehingga operasi penyelamatan masih berjalan intensif.

Jumlah korban tewas akibat banjir bandang tersebut telah melampaui 1.000 orang, sementara lebih dari 4.400 orang lainnya masih dinyatakan hilang, menurut laporan pejabat setempat yang dilansir CNN Indonesia.

Pemba Dundu Tamang, seorang pekerja pembangkit listrik yang selamat, menceritakan bagaimana ia berlari selama 20 menit dari air yang menerjang dan mengejar mereka di dalam terowongan. "Saya berlari menuju pintu masuk terowongan. Air mengejar dari belakang, sementara saya berlari di depannya," ujar Tamang kepada BBC Nepali.

Ia kehilangan enam anggota keluarganya yang berada di rumah tepi sungai saat banjir terjadi, sementara istrinya, anaknya, dan seorang keponakan berhasil selamat. Rekan Tamang, Itha Ghale, yang juga kehilangan keluarga, menyatakan ketidakpastian mengapa ia bisa selamat dari bencana tersebut.

"Mungkin memang belum takdir saya untuk meninggal," ujar Ghale. Juru bicara Angkatan Darat Nepal, Raja Ram Basnet, menyatakan bahwa fokus saat ini adalah pencarian dan penyelamatan di terowongan, dengan 119 orang telah diselamatkan hingga Selasa lalu. Para insinyur juga terus memompa udara ke dalam terowongan sebagai bagian dari upaya penyelamatan besar-besaran tersebut.

Selain itu, citra satelit menunjukkan tanda ketidakstabilan di sekitar gletser sebelum bencana, seperti pergerakan cepat permukaan gletser dan retakan batuan, menurut para ahli dari Asian Mountain Academic Alliance dan lembaga terkait.

Para ilmuwan mengungkapkan bahwa meskipun sistem peringatan dini konvensional tidak efektif untuk korban terdekat, sistem peringatan komprehensif di hilir bisa menyelamatkan banyak nyawa. Pihak berwenang dan tim penyelamat masih menggunakan alat berat untuk menembus timbunan material dan mengejar korban yang mungkin masih terperangkap. Tamang menyampaikan harapannya agar korban yang masih terjebak dapat segera ditemukan dan diselamatkan.

Di sisi lain, sebuah rumah hijau di Nuwakot berhasil bertahan dari derasnya banjir bandang, berkat konstruksi kerangka beton bertulang dan lokasinya yang berada sedikit lebih tinggi dan menjauh dari saluran utama aliran banjir, menurut analisis Architecture Presentation yang dikutip Gulf News.

Rumah tersebut menjadi simbol ketahanan di tengah bencana dan berhasil menyelamatkan keluarga yang berada di dalamnya saat banjir menerjang.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed