Laba BSI Diproyeksi Bangkit Semester II-2026 dan Target Saham Kian Tinggi
Proyeksi kinerja keuangan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menunjukkan potensi pemulihan yang signifikan pada semester II-2026. Tren positif ini diperkirakan terus berlanjut hingga tahun 2027 dan menjadi pendorong utama penguatan harga saham perusahaan.
Berdasarkan hasil riset Phintraco Sekuritas, emiten anggota Himbara ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp3,61 triliun pada semester I-2026. Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 5,7% secara tahunan.
Meskipun laba bersih teroreksi, margin income BSI tetap terjaga stabil di angka Rp14,02 triliun, seperti dikutip dari Investor Daily. Perolehan ini didukung oleh penurunan beban bagi hasil sebesar 6,6% YoY menjadi Rp4,31 triliun, sehingga efisiensi biaya dana tetap terkendali.
"Pencapaian pendapatan margin dan laba bersih ini masing-masing telah mencapai 45% dan 41% dari estimasi kami untuk tahun 2026 sebesar Rp31,14 triliun dan Rp8,74 triliun," tulis Phintraco dalam risetnya.
Di sisi lain, manajemen BSI tetap konsisten mempertahankan target operasional tahun 2026. Pertumbuhan pembiayaan dipatok pada kisaran 14-16%, biaya kredit (CoC) di bawah 1%, serta margin bunga bersih (NIM) dijaga di atas level 5,5%.
Kinerja pendapatan non-bunga atau fee based income (FBI) juga mencatatkan pertumbuhan pesat sebesar 38,2% YoY menjadi Rp4,06 triliun per Juni 2026. Lonjakan ini didorong oleh ekspansi bisnis gadai emas, transaksi emas digital, serta aktivitas treasury, yang meningkatkan kontribusi FBI terhadap total pendapatan menjadi 29,63%.
Mempertimbangkan capaian tersebut, Phintraco Sekuritas memproyeksikan laba bersih BRIS akan naik 15,5% menjadi Rp8,74 triliun pada akhir tahun 2026. Pertumbuhan laba diperkirakan berlanjut sebesar 12,2% pada tahun 2027 hingga mencapai Rp9,81 triliun.
Atas dasar perhitungan tersebut, Phintraco mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BRIS. Nilai wajar (fair value) ditetapkan pada level Rp2.675 per saham dari estimasi sebelumnya sebesar Rp3.025, yang mencerminkan potensi kenaikan harga hingga 48%.
Penilaian harga saham ini menggunakan pendekatan justified P/B yang dibandingkan dengan residual income model (RIM). Kendati demikian, potensi risiko utama bagi BSI tetap bersumber dari kemungkinan peningkatan cost of credit jika terjadi penurunan kualitas pembiayaan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow