Kemenkeu Gunakan Teknologi Digital Cegah Pita Cukai Palsu
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bakal menerapkan teknologi digital canggih untuk memberantas peredaran pita cukai palsu pada kemasan rokok di Indonesia, sebagaimana dilansir dari Detik Finance pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Langkah pencegahan tersebut dilakukan melalui kerja sama antara Peruri dan perusahaan luar negeri dengan menghadirkan sistem pelacakan digital khusus. Teknologi ini dilengkapi pemindai pintar serta pengiriman data secara langsung yang dapat diverifikasi menggunakan ponsel.
Pemerintah juga bakal memasang mesin pengawas di pabrik-pabrik rokok besar guna memantau volume produksi secara riil. Mesin tersebut terhubung secara langsung ke sistem pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).
"Namanya track and trace dari satu perusahaan kerja sama dengan Peruri. Nanti di situ cukainya nggak bisa dipalsu, beda lagi cukainya. Ada smart digital. Bukan barcode, scan khusus. (Perusahaan) dari luar negeri, tapi saya belum bisa buka perusahaannya," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Integrasi sistem tersebut diharapkan dapat memperketat pengawasan serta meminimalisasi celah manipulasi jumlah produksi rokok di tingkat produsen.
"Nanti ke-link langsung ke Bea Cukai Pusat. Jadi ke depan permainan seperti itu kita harapkan akan berkurang. Kalau bisa sih dihilangin semua.
Itu kan orang Indonesia kan pintar sekarang akal-akalin. Jadi, kita akan pastikan itu nggak terjadi lagi," jelas Purbaya.
Kementerian Keuangan memilih berfokus pada pembenahan sistem pencegahan ke depan dan tidak segan menjatuhkan sanksi pemecatan bagi pegawai DJBC yang terbukti terlibat permainan pita cukai.
Mengenai pembiayaan proyek, perusahaan asing tersebut menerapkan skema investasi berbasis pembagian persentase dari tambahan pendapatan negara yang berhasil direalisasikan.
"Anggarannya nanti dia akan ambil dari persentase berapa yang dihitung. Ada additional income-nya berapa dari situ, additional income ya. Kita akan coba 5 tahun ke depan. Kalau nggak ada tambahan income, saya berhentiin," imbuhnya Purbaya.
Uji coba penerapannya saat ini sudah berjalan di Jawa Tengah dan ditargetkan bakal meluas ke berbagai wilayah lain dalam beberapa bulan mendatang.
"Kan itu mesinnya juga itu kan betul-betul custom, harus dibuat sendiri, itu perlu waktu. Sekarang sudah dicoba di Jawa Tengah satu ya. Nanti dalam waktu dekat diperluas. Karena kita dalam 6 bulan kalau nggak salah udah dapat berapa 100 mesin, 9 bulan tuh 240 mesin," terangnya Purbaya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow