Kemenkeu Ambil Alih Pengelolaan Kereta Cepat Whoosh Mulai September 2026

Smallest Font
Largest Font

Kementerian Keuangan dipastikan mengambil alih pengelolaan Kereta Cepat Jakarta Bandung atau Whoosh mulai September 2026. Langkah ini ditempuh melalui skema Special Mission Vehicle guna mempercepat penanganan utang proyek tanpa membebani APBN secara langsung.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan kepastian pengambilalihan operasional moda transportasi modern tersebut dalam unggahan di media sosial pribadinya pada Minggu, 23 Agustus 2026.

"Selamat malam guys. Siang tadi saya dan istri otw Bandung naik Whoosh. Bulan September nanti, pengelolaan Kereta Cepat Whoosh akan berada di bawah Kemenkeu," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Penanganan beban finansial kereta cepat tersebut direncanakan bergulir tanpa menyedot langsung dana kas negara.

"Pengelolaan dilakukan lewat Special Mission Vehicle (SMV) Kemenkeu agar penanganan utang lebih cepat dan tidak membebani APBN secara langsung," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Rencana strategis ini sebelumnya telah dibahas bersama Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, di Jakarta pada Rabu, 5 Agustus 2026.

"Nanti akan kita pakai tangan SMV fiskal kita untuk mengelola itu. Kita kan punya banyak juga, ada SMI, ada yang lain-lain. Jadi enggak langsung jadi tanggung jawab APBN. Jadi walaupun dikelola oleh pemerintah, tidak akan membebani APBN," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Struktur kepemilikan saham operasional Whoosh dipastikan bakal bergeser secara penuh ke bawah kendali lembaga fiskal negara.

"(Nanti kepemilikan KCIC) di saya. Bukan (di bawah KAI lagi)," tutur Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Saat ini, kepemilikan mayoritas PT Kereta Cepat Indonesia China dikuasai konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia sebesar 60 persen, sedangkan 40 persen sisanya dipegang konsorsium China, Beijing Yawan HSR Co. Ltd. PT Kereta Api Indonesia tercatat sebagai pemegang saham utama di PSBI dengan porsi 51,37 persen.

Total nilai investasi proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung membengkak hingga mencapai 7,27 miliar dollar AS atau setara Rp120,38 triliun. Sebesar 75 persen pembiayaan bersumber dari pinjaman China Development Bank dengan skema bunga tetap 2 persen per tahun selama 40 tahun.

Proyek ini juga mengalami lonjakan biaya tambahan sebesar 1,2 miliar dollar AS dengan tingkat bunga melebihi 3 persen per tahun. Untuk menutup porsi cost overrun konsorsium Indonesia, PT KAI menarik pinjaman CDB sebesar 542,7 juta dollar AS yang terbagi dalam mata uang dollar AS berkebebanan bunga 3,2 persen dan renminbi bermuatan bunga 3,1 persen.

"Pinjaman dari CDB merupakan pendanaan cost overrun dari pinjaman porsi konsorsium Indonesia 542,7 juta dollar AS. Untuk porsi equity porsi konsorsium Indonesia telah dipenuhi dari PMN," ungkap Didiek Hartantyo, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Meskipun menanggung beban utang yang besar, volume penumpang Whoosh menunjukkan tren positif dengan melayani 573.780 orang pada periode libur sekolah pertengahan 2026, naik dari 18.000 menjadi 23.000 penumpang harian.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed