Lembaga Israel Buka Program Perekrutan Kerja Sama di Indonesia
Lembaga zionisme yang berbasis di Tel Aviv, Israel-Asia Center, mempublikasikan program rekrutmen kerja sama bertajuk Israel-Indonesia Future 2027 pada Selasa (25/8/2026). Program tersebut menyasar kalangan dari berbagai bidang di Indonesia guna mendorong pembukaan hubungan diplomatik antar kedua negara.
Perekrutan peserta untuk program tersebut diumumkan secara terbuka dan rencananya akan mulai berjalan pada September 2026 mendatang.
"Israel-Indonesia Future Program: Melibatkan para pemimpin baru maupun yang sudah mapan untuk membangun jembatan dan untuk membentuk masa depan yang Israel-Indonesia," tulis promosi program tersebut yang dikutip dari laman resmi Israel-Asia Center pada Selasa (25/8/2026).
Melalui portal resminya, Israel-Asia Center menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari kampanye agar Israel dapat diterima oleh negara-negara yang selama ini menolak pendirian negara zionis. Upaya penjalinan kerja sama ini merupakan bagian dari kerangka Perjanjian Abraham (Abraham Accord) yang digagas Israel bersama Amerika Serikat sejak 2020.
Inisiatif Perjanjian Abraham sebelumnya telah mendorong kesepakatan pengakuan diplomatik dari Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain pada 2020, yang kemudian disusul oleh Maroko serta Sudan pada 2021. Selain itu, Israel tercatat telah membuka kantor diplomatik dan melakukan normalisasi dengan sejumlah negara lain seperti Mesir, Yordania, Turki, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, Tajikistan, Kirgistan, Azerbaijan, Senegal, Albania, hingga Kosovo.
Meskipun demikian, dua negara utama berpenduduk mayoritas Muslim, yakni Arab Saudi dan Indonesia, masih menjadi target utama upaya normalisasi yang belum tercapai. Israel menilai keberhasilan kesepakatan dengan Arab Saudi akan berimbas langsung pada keterbukaan sikap Indonesia.
"Normalisasi hubungan Israel dan Arab Saudi kemungkinan besar akan mengarah pada proses normalisasi antara Israel dengan Indonesia," tulis penyataan resmi dari portal Israel-Asia Center.
Dalam publikasi yang sama, lembaga tersebut menuding pembicaraan normalisasi dengan Arab Saudi dan Indonesia yang terhambat sejak 2023 disebabkan oleh dinamika perselisihan dengan faksi pejuang di Gaza, Palestina.
"Peristiwa 7 Oktober 2023 yang dilakukan Hamas, merupakan upaya langsung untuk menggagalkan pembicaraan normalisasi tersebut," tulis laman tersebut.
Pihak Israel-Asia Center mengklaim adanya sinyal dari Arab Saudi untuk melanjutkan pembahasan Abraham Accord. Pihaknya juga meyakini pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di Jakarta memberikan sinyal untuk membuka kerja sama.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow