IHSG Turun 0,64 Persen Dipengaruhi Pelemahan Mayoritas Sektor
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,64% ke level 6.091,39 pada perdagangan Rabu (29/7) di Bursa Efek Indonesia, dipengaruhi oleh pelemahan mayoritas sektor pasar modal.
Mayoritas sektor saham mengalami penurunan dengan sektor properti mencatat penurunan terdalam sebesar 2,75%, sedangkan sektor teknologi mencatat kenaikan tipis sebesar 0,18%, menurut data yang dilansir dari Detik Finance.
Aktivitas investor asing menunjukkan jual bersih sebesar Rp183,81 miliar di pasar reguler, namun secara keseluruhan investor asing masih mencatat beli bersih mencapai Rp8,97 triliun di seluruh pasar.
Dalam pasar global, bursa saham Amerika Serikat juga ditutup di zona negatif dengan indeks Dow Jones turun 2,19%, S&P 500 melemah 1,52%, dan Nasdaq terkoreksi 1,74%. Perhatian pasar tertuju pada laporan keuangan semester I-2026 dan ekspektasi arah kebijakan suku bunga The Fed.
Bank Negara Indonesia (BBNI) mengumumkan program pembelian kembali saham dengan dana maksimal Rp627 miliar dari kas internal, berlangsung sejak 27 Juli hingga 26 Oktober 2026. Program ini menjadi buyback kedua pada tahun ini setelah tahap pertama dengan realisasi 77,86 juta saham senilai Rp905,48 miliar.
Menurut data proforma per 31 Mei 2026, setelah buyback, total aset BBNI diperkirakan mencapai Rp1.364,74 triliun dan ekuitas Rp160,37 triliun. Laba per saham (EPS) diproyeksikan meningkat menjadi Rp244 dan imbal hasil atas ekuitas (ROE) menjadi 14,52%, dilansir dari Detik Finance.
Perusahaan Sariguna Primatirta (CLEO) memperluas kapasitas produksinya dengan pembangunan tiga pabrik air minum kemasan baru di Palu, Pontianak, dan Pekanbaru. Pabrik di Palu ditargetkan beroperasi pada kuartal III-2026, sedangkan dua pabrik lainnya menyusul pada kuartal IV-2026.
Ekspansi tersebut meningkatkan jumlah pabrik CLEO menjadi 32 unit dengan jaringan distribusi internal lebih dari 450 titik serta sekitar 11.000 mitra distribusi. Perseroan menargetkan penambahan jaringan distribusi internal menjadi 500 titik hingga akhir tahun.
Pada kuartal pertama 2026, penjualan CLEO tercatat Rp774,40 miliar, meningkat 15,80% dibanding periode sama tahun lalu. Sepanjang 2025, penjualan bersih CLEO mencapai Rp2,83 triliun dengan EBITDA Rp783 miliar dan laba bersih Rp389,51 miliar, meskipun biaya operasional meningkat akibat penambahan pabrik dan depo.
Timah Indonesia (TINS) mencatat pertumbuhan signifikan pada semester I-2026 dengan pendapatan naik 146,92% menjadi Rp10,42 triliun, didorong oleh kenaikan volume penjualan logam timah sebesar 85,13% menjadi 10.984 metrik ton dan harga jual rata-rata US$49.794 per metrik ton.
Laba usaha TINS meningkat menjadi Rp3,46 triliun dan EBITDA Rp3,90 triliun, sedangkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp2,71 triliun atau naik 804,70% dibanding semester I-2025. Realisasi tersebut mencapai sekitar 169% dari target laba bersih tahun 2026 sebesar Rp1,61 triliun.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow