IHSG Tertekan Net Sell Asing dan Ketegangan Geopolitik di Selat Hormuz

Smallest Font
Largest Font

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa mengalami koreksi sebesar 1,53% ke level 6.267,8, terdampak oleh tekanan jual investor asing dan ketegangan geopolitik di Selat Hormuz, menurut laporan Investor Daily.

Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 280 miliar di pasar reguler dan total net sell mencapai Rp 687,8 miliar. Akumulasi net sell asing sepanjang tahun sudah mencapai sekitar Rp 95 triliun, menandakan tekanan pada pasar saham domestik belum mereda.

Analis Pasar Modal, Hendra Wardana, menyatakan bahwa arus keluar dana asing menunjukkan kehati-hatian investor global terhadap aset Indonesia. Meski valuasi saham sudah menarik, investor asing belum konsisten melakukan akumulasi.

"Selama tekanan jual asing masih berlanjut, ruang penguatan IHSG berpotensi terbatas dan setiap kenaikan indeks masih berisiko dimanfaatkan sebagai momentum untuk melakukan profit taking atau mengurangi eksposur," ujar Hendra.

Ketegangan antara AS dan Iran yang meningkat menimbulkan kekhawatiran gangguan di Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak dunia. Jika eskalasi konflik menaikkan harga minyak, pasar khawatir inflasi global kembali melonjak dan pelonggaran moneter negara maju tertunda, sehingga mempengaruhi nilai tukar mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, meski retail sales Juni menunjukkan perbaikan dengan kontraksi 3,0% YoY dari sebelumnya -3,9%, hal ini belum cukup mengimbangi tekanan eksternal dan arus keluar dana asing.

Hendra menambahkan, "Pasar saat ini membutuhkan katalis yang lebih kuat untuk mengubah sentimen, baik dari sisi kebijakan moneter, stabilitas rupiah maupun perbaikan fundamental ekonomi dan korporasi."

Investor juga menanti data inflasi AS Juli yang diperkirakan sebesar 3,4% YoY untuk headline dan 2,5% YoY untuk core. Data ini penting dalam menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed yang berdampak pada pasar negara berkembang.

"Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, penurunan suku bunga bisa tertunda dan dolar AS menguat, meningkatkan tekanan pada emerging market. Sebaliknya, inflasi lebih rendah dari ekspektasi bisa menjadi katalis positif," jelas Hendra.

Hari ini juga berlangsung MSCI Review yang dapat mempengaruhi persepsi investor global terhadap pasar Indonesia, terutama mengingat akumulasi net sell asing yang besar.

Selain itu, perkembangan terkait Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia juga menjadi perhatian karena berpengaruh pada stabilitas rupiah dan kebijakan moneter yang penting bagi kepercayaan investor.

Secara teknikal, Hendra mengatakan IHSG memiliki peluang technical rebound dengan support di level 6.200–6.240. "Jika area tersebut bertahan dan IHSG menembus 6.300, peluang rebound ke 6.385 masih terbuka," ujarnya.

Namun, jika support 6.200 ditembus, risiko pelemahan berlanjut makin besar. Oleh karena itu, perdagangan hari ini diperkirakan masih volatil dan investor harus mencermati kombinasi keputusan MSCI, data inflasi AS, perkembangan geopolitik, dan arus dana asing sebelum meningkatkan eksposur.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed