IHSG Melemah 009 Persen Usai BI Tahan Suku Bunga Acuan 575 Persen
Aksi lepas portofolio oleh pemodal asing senilai Rp1,11 triliun menekan Indeks Harga Saham Gabungan hingga terkoreksi 0,09 persen ke level 6.334,12 pada perdagangan Rabu (22/7/2026). Penurunan sebesar 5,54 poin ini sekaligus menghentikan tren penguatan indeks yang sebelumnya berlangsung selama sembilan hari berturut-turut.
Tekanan di Bursa Efek Indonesia terjadi bersamaan dengan keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan di angka 5,75 persen. Sepanjang hari perdagangan, indeks bergerak dinamis dalam rentang 6.284,88 hingga 6.394,68 dengan nilai transaksi harian mencapai Rp18,55 triliun dari total volume 46,42 miliar saham.
Data BEI mencatat sebanyak 340 saham mengalami penurunan harga, 272 saham menguat, dan 184 saham stagnan. Penjualan bersih investor asing paling banyak terjadi pada saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk senilai Rp230 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Rp141 miliar, PT Astra International Tbk Rp137 miliar, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk Rp134 miliar.
Di sisi lain, investor luar negeri masih mencatatkan aksi beli bersih pada saham PT Timah Tbk sebesar Rp56 miliar dan PT Aneka Tambang Tbk senilai Rp49 miliar. Sementara itu, penopang utama pergerakan IHSG disumbangkan oleh saham PT Barito Renewables Energy Tbk sebesar 8,17 poin dan PT Capital Financial Indonesia Tbk sebesar 5,51 poin.
Analis Phintraco Sekuritas menilai pelemahan bursa saham domestik turut dipicu oleh aksi ambil untung investor setelah indeks mencatatkan lonjakan signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
"Keputusan tersebut mencerminkan keyakinan Bank Indonesia terhadap stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi yang tetap terkendali, sekaligus menjaga ruang pertumbuhan ekonomi domestik," imbuh analis Phintraco Sekuritas.
Langkah BI menahan suku bunga acuan dinilai menjadi sinyal positif dalam menjaga arus modal.
"Secara teknikal, IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan dengan support 6.220–6.250 dan resistance 6.360–6.400. Momentum bullish masih terjaga, namun setelah reli yang cukup kuat dalam beberapa hari terakhir, potensi profit taking jangka pendek tetap perlu diwaspadai," kata Reza Diofanda, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas.
Pandangan berbeda mengenai dampak kebijakan monetari terhadap proyeksi pergerakan indeks bursa saham disampaikan oleh analis sektor riset bursa.
"Jika naik lagi, tekanan balik ke 6.000—6.100. Higher for longer hingga akhir tahun [membuat] upside terbatas. Base case IHSG masih 6.000—6.500. Penentu terbesar tetap MSCI November, bukan level BI Rate," tegas Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.
Di tempat terpisah, kebijakan pertahanan suku bunga acuan dinilai strategis untuk mempertahankan daya tarik investasi di pasar keuangan dalam negeri.
"Sehingga dibutuhkan daya tarik bagi pelaku pasar dan investor asing untuk masuk ke dalam pasar keuangan dalam negeri," kata Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas.
Potensi pergeseran alokasi dana investor diprediksi dapat terjadi apabila ada perubahan arah kebijakan suku bunga di masa depan.
"Apalagi saham dan obligasi pasti akan mengalami penurunan harga di saat suku bunga naik," ungkap Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas.
Respon pelaku pasar modal terhadap pengumuman BI dianggap sudah terukur karena keputusan tersebut telah diantisipasi sebelumnya.
"Dengan kata lain, pasar saham Indonesia sudah berada pada mode ‘higher for longer is the new normal’ sehingga responsnya terhadap keputusan BI relatif terukur," kata Rully Arya Wisnubroto, Analis Mirae Asset Sekuritas.
Bersamaan dengan penurunan IHSG, nilai tukar rupiah terkoreksi 0,16 persen menjadi Rp17.917 per dolar AS, meningkatkan akumulasi depresiasi rupiah sejak awal tahun menjadi 7,42 persen. Mayoritas bursa Asia seperti Nikkei 225, Hang Seng, dan CSI 300 juga tercatat melemah.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow