IHSG Ditutup Melemah ke Level 6.501,6 pada 24 Agustus 2026
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah sebesar 24,02 poin atau 0,37% ke level 6.501,6 pada penutupan perdagangan, Senin (24/8/2026), dilansir dari Investor Daily. Sebanyak 276 saham terpantau mengalami penguatan, sementara 384 saham melemah, dan 303 saham stagnan. Total nilai transaksi di bursa tercatat mencapai Rp 14,2 triliun pada perdagangan tersebut.
Sejumlah saham yang masuk ke dalam indeks LQ45 terpantau menguat. Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk atau ADRO mencatatkan penguatan paling tinggi sebesar 4,5%.
Selain itu, terdapat lima saham yang mentok Auto Rejection Atas atau ARA. Saham-saham tersebut meliputi PICO, ELIT, SAFE, EKAD, dan POLU.
Lonjakan harga signifikan juga terjadi pada jajaran top gainers. Saham dari PICO hingga CENT melonjak drastis dengan tingkat kenaikan harga antara 24% sampai 34%. Dari sisi sektoral, hanya satu sektor saham yang mampu menguat pada penutupan pasar hari ini. Sektor barang baku mencatatkan penguatan sebesar 1,38%.
Sebaliknya, pelemahan meluas melanda sebagian besar sektor lainnya. Sektor properti merosot 1,67%, kesehatan melemah 1,59%, serta sektor transportasi terkoreksi 0,91%. Tekanan pelemahan juga menekan sektor teknologi sebesar 0,77%. Sektor barang konsumen non-primer turun 0,68%, sedangkan sektor keuangan terpangkas 0,5%.
Sektor infrastruktur ikut melemah 0,32%, disusul barang konsumen primer 0,13%. Sektor perindustrian turun tipis 0,05%, dan sektor energi terkoreksi 0,04%. Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan bahwa pelemahan ini dipengaruhi faktor eksternal.
Bursa regional Asia cenderung melemah seiring penurunan futures saham Amerika Serikat. Investor bersikap hati-hati menjelang konferensi pers Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Agenda tersebut membahas rencana pemberian sanksi tambahan terhadap Iran.
Pelaku pasar di tingkat regional juga mencermati perkembangan ekonomi China. Investor menantikan pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional pada 25-28 Agustus 2026.
Pertemuan tersebut dinantikan untuk mencari sinyal kebijakan ekonomi baru dari Tiongkok. Sentimen eksternal ini memberikan pengaruh besar terhadap pergerakan bursa regional. Sementara itu, dari dalam negeri, tekanan terhadap IHSG bersumber dari faktor fundamental.
Pilarmas menegaskan tekanan datang dari kekhawatiran defisit transaksi berjalan. Defisit transaksi berjalan dikhawatirkan melebar ke level tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi ini dipicu menyusutnya surplus barang serta meningkatnya biaya impor energi.
Situasi tersebut menjadi perhatian serius bagi para pelaku pasar modal. Defisit yang melebar dapat meningkatkan tekanan terhadap posisi eksternal Indonesia secara keseluruhan.
Hal ini secara langsung turut memengaruhi sentimen investor terhadap pasar saham domestik. Tekanan eksternal dan internal berpadu menahan laju penguatan IHSG.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow