Harga Minyak Dunia Naik Kenaikan BBM Landa 143 Negara Kena Perang Iran

Smallest Font
Largest Font

Eskalasi perang di Iran dan kemacetan negosiasi diplomatik mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak di 143 negara serta memicu lonjakan harga minyak mentah dunia pada perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026.

Data GlobalPetrolPrices mencatat 143 dari 170 negara mengalami kenaikan harga bensin sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Kenaikan tertinggi terjadi di Bhutan sebesar 56 persen, diikuti Kuba, Myanmar, dan Uni Emirat Arab sebesar 50 persen.

Lonjakan di Bhutan dipicu tingginya ketergantungan impor dari India yang menerapkan mekanisme Import Parity Price. Sementara itu, pemerintah setempat memprioritaskan subsidi untuk menahan lonjakan harga diesel.

Di Amerika Serikat, harga rata-rata bensin reguler melonjak 39 persen dari 2,94 dolar AS menjadi 4,09 dolar AS per galon berdasarkan data AAA Fuel Prices. Dampaknya, daya jelajah kendaraan konsumen menyusut hingga 25 persen untuk pengeluaran 50 dolar AS.

Untuk Indonesia, data GlobalPetrolPrices mencatat harga Pertamax Green 95 mengalami kenaikan sekitar 31 persen. Penyesuaian harga BBM non-subsidi oleh PT Pertamina dilakukan bertahap, dengan kenaikan tertinggi tercatat pada produk Pertamina Dex.

Kondisi pasar energi makin memanas seiring penguatan harga minyak dunia. Pasar berjangka Brent naik 2,2 persen menjadi 89,79 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate menguat 1,7 persen ke level 83,66 dolar AS per barel.

Presiden Geopolitical Risk Consultancy Scarab Rising Irina Tsukerman memberikan analisisnya mengenai pergerakan harga minyak mentah di pasar Amerika Serikat.

"Pelemahan pada WTI mencerminkan kondisi keseimbangan pasokan minyak mentah AS yang semakin nyaman," ujar Presiden at Geopolitical Risk Consultancy Scarab Rising Irina Tsukerman.

Pernyataan tersebut merujuk pada laporan Badan Informasi Energi AS yang mencatat kenaikan inventaris minyak mentah domestik, termasuk di pusat pengiriman Cushing, Oklahoma. Namun, penguatan Brent dan WTI tetap terjadi setelah investor melihat buntunya opsi diplomasi.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengaitkan pergerakan harga minyak dengan minimnya perkembangan negosiasi diplomatik di Timur Tengah.

Kurangnya kemajuan dalam pembicaraan, ditambah dengan aliran yang terus terbatas, kemungkinan memicu penyesuaian pandangan pasar, kata analis UBS Giovanni Staunovo.

Pemerintah AS mengonfirmasi tidak ada dialog langsung yang berjalan dengan pihak Teheran. Penegasan ini disampaikan meny meny menyikapi upaya diplomasi negara lain seperti kunjungan Perdana Menteri Qatar ke Teheran.

Sekretaris Press Gedung Putih Karoline Leavitt menyampaikan posisi resmi pemerintah AS terkait peluang pembicaraan dengan Iran.

"Tidak ada negosiasi yang terjadi saat ini, dan hal ini akan terus berlanjut sampai presiden merasa bahwa mungkin mereka bersedia duduk di meja perundingan secara serius dan bermakna. Kami belum melihat hal itu terjadi," kata sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt.

Ketegangan meningkat setelah AS memberlakukan sanksi ekonomi baru terhadap Iran. Menteri Keuangan Scott Bessent menyebut kebijakan tersebut sebagai sanksi terberat dalam sejarah untuk mengurangi kebutuhan operasi militer besar.

Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Azizi mengecam sanksi tersebut dan menilainya sudah tidak efektif. Di sisi lain, analis menilai kegagalan negosiasi memicu ketidakpastian jangka panjang.

Kepala Analis KCM Tim Waterer menyampaikan kekhawatirannya atas potensi kegagalan proses diplomasi.

"Risiko terbesar saat ini adalah bahwa optimisme mengenai kesepakatan ternyata terlalu dini, sehingga negosiasi kembali macet atau gagal. Hal itu akan dengan cepat memunculkan kembali premi risiko pada harga," tutur Kepala Analis KCM Tim Waterer.

Isu utama perselisihan berpusat pada program nuklir Iran serta posisi strategis Selat Hormuz. Jalur ini mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia sebelum konflik pecah.

Head of Market Insights Philip Nova Priyanka Sachdeva menyoroti posisi geopolitik Iran di jalur distribusi vital tersebut.

"Inti dari perselisihan ini tetaplah program nuklir Iran, dan hal itu kecil kemungkinannya akan diselesaikan dengan cepat. Iran juga memahami pentingnya posisi geografisnya serta daya tawar yang diberikan oleh Selat Hormuz, sehingga risiko ketidakpastian yang berkepanjangan masih tetap ada," ujar Head of Market Insights Philip Nova Priyanka Sachdeva.

Data Kpler menunjukkan arus lalu lintas Selat Hormuz mulai membaik dengan 10 kapal komoditas melintas pada Rabu, meski angka ini masih di bawah rata-rata harian normal sebanyak 15 kapal.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed