Harga Emas Dunia Menguat Jadi US$ 4.055 per Ons Troi

Smallest Font
Largest Font

Harga emas dunia mengalami penguatan pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026. Lonjakan ini dipicu oleh depresiasi dolar Amerika Serikat (AS) serta penurunan tajam harga minyak akibat meningkatnya optimisme kesepakatan antara AS dan Iran.

Kondisi tersebut meredakan kekhawatiran inflasi global sekaligus menekan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Pada penutupan perdagangan, harga emas spot naik 0,31% menjadi US$ 4.055,25 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS menguat 0,09% ke posisi US$ 4.110,9 per ons troi. Kenaikan sepanjang Juli tercatat sekitar 1%, yang menjadi performa bulanan positif pertama dalam lima bulan terakhir.

Sentimen positif pasar menguat setelah harga minyak dunia merosot lebih dari US$ 4 per barel. Penurunan harga komoditas energi tersebut terjadi usai Presiden AS Donald Trump menunda serangan baru terhadap Iran demi mengupayakan jalur diplomasi terkait program nuklir Teheran dan pembukaan Selat Hormuz.

Analis UBS Giovanni Staunovo menjelaskan bahwa korelasi antara harga minyak dan emas kembali terlihat jelas di pasar finansial.

"Ketika harga minyak turun, emas cenderung menguat karena pasar menilai tekanan inflasi berkurang," kata Giovanni Staunovo.

Ia menambahkan bahwa penurunan harga minyak mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tahun ini, sehingga memperkuat daya tarik emas. Sebaliknya, lonjakan harga minyak berisiko memicu inflasi dan mendorong suku bunga tetap tinggi, yang dapat mengurangi minat pada emas karena tidak menghasilkan imbal hasil.

Tekanan pada dolar AS yang menyentuh level terendah sejak pertengahan Juni turut ditopang langkah otoritas Jepang yang melakukan intervensi valuta asing untuk menopang yen. Di saat bersamaan, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun semakin memberikan ruang bagi penguatan emas.

Saat ini pelaku pasar sedang mencermati rilis data ketenagakerjaan AS pekan ini, termasuk laporan ADP Employment dan nonfarm payrolls (NFP). Laporan ini diprediksi menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga sentral AS selanjutnya.

"Apabila data tenaga kerja menunjukkan pelemahan pasar kerja AS, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga pada level saat ini sepanjang tahun," tutur Giovanni Staunovo.

Di sisi lain, tiga pejabat The Fed berbeda pendapat dan mengimbau agar bank sentral segera menaikkan suku bunga. Mereka mengingatkan adanya risiko inflasi bertahan di atas target 2% jika penyesuaian tidak segera dilakukan.

Pergerakan harga emas dalam jangka pendek masih sangat bergantung pada hasil laporan ketenagakerjaan AS. Jika kondisi pasar tenaga kerja terindikasi melemah, peluang The Fed menahan suku bunga akan semakin besar dan membuka potensi kenaikan harga emas lebih lanjut.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed