Harga CPO Bursa Malaysia Melonjak Akibat Lonjakan Impor India
Lonjakan tajam melanda harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) pada penutupan perdagangan Kamis (13/8/2026). Kenaikan signifikan ini didorong oleh prospek permintaan minyak nabati yang positif dari India serta kekhawatiran pasar terhadap potensi penurunan produksi akibat ancaman cuaca.
Seperti dikutip dari Investor Daily, penguatan melanda seluruh tenor kontrak pengiriman. Kontrak CPO Agustus 2026 naik 18 ringgit Malaysia menjadi 4.528 ringgit Malaysia per ton. Pada saat yang sama, kontrak September 2026 menguat 18 ringgit Malaysia menuju posisi 4.608 ringgit Malaysia per ton.
Tren kenaikan berlanjut pada kontrak Oktober 2026 yang terangkat 27 ringgit Malaysia menjadi 4.724 ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak November 2026 mencatatkan peningkatan 29 ringgit Malaysia ke level 4.805 ringgit Malaysia per ton.
Kenaikan paling tinggi dialami oleh kontrak berjangka jarak jauh. Kontrak Desember 2026 melejit 34 ringgit Malaysia menjadi 4.862 ringgit Malaysia per ton, sedangkan kontrak Januari 2027 melonjak 36 ringgit Malaysia hingga menembus 4.908 ringgit Malaysia per ton.
Berdasarkan data TradingView, pergerakan positif harga CPO terjadi seiring meningkatnya volume impor minyak sawit oleh India. Di samping faktor permintaan, risiko fenomena iklim El Nino turut membayangi pasokan global sehingga mendorong kenaikan harga di pasar berjangka.
Analis senior Fastmarkets Palm Oil Analytics, Dr Sathia Varqa menyatakan bahwa data Solvent Extractors' Association (SEA) mencatat kenaikan impor minyak sawit India pada Juli 2026 sebesar 50% secara bulanan menjadi 730.965 ton.
"Sentimen pasar dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan CPO akibat risiko El Nino," kata Sathia dikutip dari Bernama.
Pertumbuhan impor India tidak hanya terjadi pada komoditas sawit, tetapi juga pada jenis minyak nabati lainnya. Impor minyak kedelai ke negara tersebut melonjak 31% menjadi 498.881 ton pada Juli 2026, sedangkan volume impor minyak bunga matahari terkerek 4% menjadi 251.639 ton.
Sebagai salah satu konsumen minyak nabati terbesar di dunia, pergerakan volume impor India menjadi indikator krusial bagi arah permintaan pasar global. Tingginya angka pembelian tersebut memberi sinyal kuat bahwa konsumsi pasar India masih sangat solid.
Di sisi lain, ancaman fenomena El Nino terus diantisipasi oleh para pelaku pasar. Perubahan pola cuaca yang cenderung lebih kering berpotensi menekan tingkat produktivitas perkebunan, sehingga kekhawatiran atas terganggunya pasokan memberikan dukungan tambahan bagi penguatan harga CPO.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow