Harga Kontrak CPO di Bursa Malaysia Menguat Dua Hari Berturut-turut

Smallest Font
Largest Font

Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kembali menguat pada perdagangan Selasa (18/8/2026), memperpanjang reli selama dua hari berturut-turut, didukung oleh penguatan minyak nabati di bursa Dalian dan Chicago serta kenaikan harga minyak mentah, dilansir dari Investor Daily.

Data Bursa Malaysia Derivatives menunjukkan kontrak CPO pengiriman September 2026 naik 27 ringgit Malaysia menjadi 4.616 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Oktober menguat 37 ringgit menjadi 4.754 ringgit per ton, sedangkan kontrak November naik 39 ringgit menjadi 4.860 ringgit per ton. Kontrak Desember, Januari 2027, dan Februari 2027 masing-masing meningkat signifikan, mencapai di atas 5.000 ringgit per ton untuk kontrak Februari.

Pergerakan harga ini menunjukkan kontrak jangka pendek cenderung tertekan, sementara kontrak pengiriman jangka panjang masih mencatat penguatan. Harga CPO kini melampaui 4.800 ringgit Malaysia per ton, level tertinggi sejak awal April 2026.

Sentimen pasar CPO mendapat dorongan dari kenaikan harga minyak nabati dan minyak mentah. Situasi konflik di Timur Tengah yang belum menemukan titik damai turut mempengaruhi kenaikan harga minyak mentah, yang berdampak positif pada CPO.

Di sisi lain, penguatan Ringgit Malaysia membatasi kenaikan harga CPO karena membuat komoditas ini relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga menekan potensi kenaikan lebih lanjut.

Stok CPO Malaysia juga meningkat ke level tertinggi dalam lima bulan pada Juli 2026, akibat produksi yang tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor. Kondisi ini menjadi perhatian pasar karena kenaikan persediaan dapat menekan harga dalam jangka pendek.

Permintaan dari India, salah satu konsumen utama minyak sawit, juga menjadi fokus. Impor minyak kedelai India diperkirakan mencapai rekor pada Agustus 2026, yang berpotensi menekan permintaan CPO karena harga minyak kedelai yang lebih kompetitif.

Perkiraan ekspor CPO Malaysia pada awal Agustus menunjukkan hasil yang bervariasi. Intertek Testing Services memperkirakan pengiriman turun 7,9%, sementara AmSpec Agri Malaysia memperkirakan kenaikan ekspor 3,2% pada periode yang sama. Perbedaan ini membuat pelaku pasar terus mengamati perkembangan permintaan global untuk menentukan arah harga CPO selanjutnya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed