Harga CPO Bursa Malaysia Melemah Imbas Aksi Ambil Untung
Aksi ambil untung memicu koreksi harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives pada perdagangan Kamis (6/8/2026). Tren penurunan ini terjadi tepat setelah komoditas minyak sawit mencatatkan penguatan selama dua hari berturut-turut.
Seperti dilansir dari Investor Daily, pergerakan pasar saat ini tertahan karena para pelaku usaha memilih bersikap hati-hati. Mereka menantikan rilis data ekspor bulanan serta laporan pasokan terbaru dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB).
Penurunan harga melanda mayoritas kontrak berjangka di Bursa Malaysia. Kontrak pengiriman September 2026 tergerus 21 ringgit Malaysia menjadi 4.625 ringgit Malaysia per ton. Begitu pula dengan kontrak Oktober 2026 yang tertekan 16 ringgit Malaysia ke level 4.686 ringgit Malaysia per ton.
Pelemahan berlanjut pada kontrak pengiriman November 2026 sebesar 12 ringgit Malaysia menjadi 4.733 ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak Desember 2026 dan Januari 2027 masing-masing merosot 8 ringgit Malaysia dan 2 ringgit Malaysia, menduduki posisi 4.775 ringgit Malaysia serta 4.815 ringgit Malaysia per ton.
Hanya kontrak CPO pengiriman Agustus 2026 yang mencatatkan kenaikan, yakni bertambah 15 ringgit Malaysia hingga mencapai level 4.534 ringgit Malaysia per ton.
Direktur perusahaan pialang Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, mengungkapkan bahwa tekanan jual wajar terjadi setelah reli singkat. Menurutnya, fokus perhatian industri sawit global kini tertuju pada rilis resmi data MPOB yang dijadwalkan meluncur pada 10 Agustus mendatang.
"Pasar saat ini cenderung berhati-hati sambil menanti rilis data ekspor Agustus, serta laporan produksi, stok, dan permintaan dari MPOB maupun Malaysian Palm Oil Association (MPOA)," ujar Paramalingam Supramaniam.
Di sisi lain, laju penurunan harga CPO sedikit tertahan oleh dinamika pasar energi fosil. Penguatan harga minyak mentah dunia—akibat meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz dan Teluk Aden—memberikan daya tarik tambahan bagi minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel.
Meski begitu, penguatan tipis nilai tukar ringgit Malaysia sebesar 0,07% terhadap dolar AS turut membatasi ruang kenaikan. Penguatan mata uang lokal ini membuat komoditas kelapa sawit Malaysia relatif lebih mahal bagi para pembeli dari luar negeri.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow