Harga CPO Bursa Malaysia Anjlok Akibat Aksi Ambil Untung

Smallest Font
Largest Font

Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami penurunan signifikan pada penutupan perdagangan Rabu (12/8/2026). Penurunan ini terjadi akibat aksi ambil untung setelah harga sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir, dilansir dari Investor Daily.

Tekanan terhadap komoditas minyak kelapa sawit tersebut semakin diperberat oleh peningkatan angka produksi serta lonjakan persediaan CPO di Malaysia.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Malaysia Derivatives, penurunan terjadi pada seluruh tenggat pengiriman. Kontrak pengiriman Agustus 2026 mengalami penurunan sebesar 52 ringgit Malaysia menjadi 4.510 ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak pengiriman September 2026 terkoreksi 58 ringgit Malaysia hingga menyentuh level 4.590 ringgit Malaysia per ton.

Pelemahan juga melanda kontrak untuk pengiriman Oktober 2026 yang tergerus 51 ringgit Malaysia menjadi 4.697 ringgit Malaysia per ton. Adapun kontrak pengiriman November 2026 merosot 44 ringgit Malaysia menjadi 4.776 ringgit Malaysia per ton.

Untuk periode pengiriman Desember 2026, harga melemah 40 ringgit Malaysia ke level 4.828 ringgit Malaysia per ton. Sedangkan untuk kontrak pengiriman Januari 2027 mencatatkan penurunan 34 ringgit Malaysia menjadi 4.872 ringgit Malaysia per ton.

Data dari TradingView mencatat bahwa tekanan pasar makin terasa tebal menyusul rilis data pasokan CPO Malaysia bulan Juli. Stok persediaan mengalami kenaikan 3,32% menjadi 2,63 juta ton, bersamaan dengan lonjakan volume produksi sebesar 9,41% yang mencapai 1,79 juta ton.

Lonjakan pada sisi produksi dan persediaan tersebut menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar akan terjadinya kelimpahan pasokan. Kondisi ini secara langsung membatasi ruang kenaikan harga CPO di bursa.

Sentimen negatif turut diperparah oleh rilis data inflasi China yang berada di bawah ekspektasi. Angka inflasi yang rendah mengindikasikan masih lemahnya permintaan dari China, yang memegang peran sebagai salah satu importir minyak nabati terbesar secara global.

Meski demikian, laju penurunan harga CPO sedikit tertahan oleh beberapa faktor penyeimbang. Pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia menjadikan komoditas CPO relatif lebih murah bagi para pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Dukungan tambahan bagi pasar CPO juga datang dari pergerakan bursa komoditas lain, seperti kenaikan harga minyak kedelai (soyoil) di bursa Chicago.

Selain itu, prospek permintaan dari India memberikan katalis positif bagi pasar. Ekspektasi lonjakan konsumsi menjelang musim festival di India menjadi penopang utama, setelah volume impor minyak sawit negara tersebut pada Juli mencapai posisi tertinggi dalam 10 bulan terakhir.

Prospek pengiriman luar negeri Malaysia turut menunjukkan perbaikan. Lembaga surveyor kargo mengestimasikan peningkatan volume ekspor minyak sawit Malaysia antara 2,6% hingga 14,8% pada 10 hari pertama bulan Agustus.

Peningkatan ekspor tersebut memberi sinyal bahwa penyerapan pasar internasional masih tergolong kuat untuk mengimbangi lonjakan produksi dalam negeri Malaysia.

Di sisi lain, pergerakan harga minyak mentah dunia yang menguat memberi dorongan bagi komoditas CPO. Kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah meningkat setelah terjadi insiden serangan terhadap dua kapal kargo, di tengah ketidakpastian prospek kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed