Harga Batu Bara Dunia Terkoreksi Akibat Ekspansi Tambang India

Smallest Font
Largest Font

Penurunan harga batu bara global terjadi di tengah kekhawatiran atas melonjaknya pasokan akibat rencana ekspansi tambang di India. Sebagaimana dikutip dari Investor Daily, koreksi ini berlangsung saat prospek permintaan energi fosil dunia mulai melambat.

Tekanan harga melanda perdagangan di pasar Newcastle dan Rotterdam pada Kamis, 13 Agustus 2026. Pelemahan mencakup kontrak pengiriman jangka pendek hingga beberapa bulan ke depan.

Rincian Harga Batu Bara Newcastle dan Rotterdam Kontrak Agustus-Oktober 2026
PasarKontrakHarga (US$/ton)Perubahan
NewcastleAgustus 2026129,4Turun US$ 0,1
NewcastleSeptember 2026133,9Turun US$ 0,2
NewcastleOktober 2026136,4Stabil
RotterdamAgustus 2026122,0Turun US$ 0,6
RotterdamSeptember 2026121,8Turun US$ 0,8
RotterdamOktober 2026124,15Turun US$ 0,3

Penyebab dan Implikasi Ekspansi Tambang India

Pemerintah India memfokuskan sebagian besar kapasitas tambang baru di wilayah timur, khususnya negara bagian Jharkhand dan Odisha. Strategi ini bertujuan untuk mengamankan pasokan listrik dalam negeri. Target produksi batu bara India ditetapkan mencapai 1,15 miliar ton pada tahun fiskal 2025/2026.

Target tersebut diproyeksikan terus meningkat hingga 1,5 miliar ton pada 2030 mendatang. Laporan Global Energy Monitor mencatat India hampir menggandakan kapasitas proyek tambang yang direncanakan pada 2025. Kapasitas yang diusulkan melonjak menjadi 638 juta ton per tahun dari sebelumnya 329 juta ton.

Langkah agresif India tersebut mendorong kenaikan total pipeline proyek tambang batu bara global sebesar 11 persen. Angka tersebut mencapai 2,521 miliar ton per tahun secara keseluruhan.

Meskipun kapasitas energi terbarukan di India tumbuh pesat, pemenuhan kebutuhan energi listrik domestik masih bergantung pada produksi batu bara lokal. Global Energy Monitor memperingatkan bahwa ekspansi tambang berisiko memicu kelebihan kapasitas. Produsen terancam menghadapi tekanan harga apabila permintaan global tidak tumbuh sesuai perkiraan.

Prospek stagnasi permintaan dunia juga menjadi tantangan besar bagi industri batu bara. Badan Energi Internasional memperkirakan konsumsi batu bara global akan mencapai titik puncak atau plateau pada 2030. Perubahan struktural dalam sistem energi global ditandai oleh melesatnya energi terbarukan. Pembangkit listrik tenaga angin dan surya berhasil melampaui porsi batu bara dalam bauran energi global pada 2025.

Di sisi lain, realisasi penambahan kapasitas tambang batu bara baru secara global justru menurun hampir 40 persen pada 2025 menjadi 113 juta ton per tahun. Penurunan ini terutama dipicu oleh melambatnya proyek di China dan Australia.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed