Harga Batu Bara Dunia Naik Akibat Produksi China Merosot

Smallest Font
Largest Font

Harga batu bara dunia kembali mengalami penguatan pada perdagangan Selasa (18/8/2026) dan melanjutkan tren kenaikan selama dua hari berturut-turut. Dilansir dari Investor Daily, lonjakan harga komoditas ini terdorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan dari China. Penurunan produksi batu bara di negara pemakai utama tersebut mencapai level terendah dalam hampir lima tahun terakhir.

Situasi ini langsung memicu kekhawatiran ketatnya pasokan di pasar global. Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Agustus 2026 naik US$ 0,45 menjadi US$ 129,75 per ton. Kontrak September 2026 menguat US$ 0,2 ke level US$ 134,25 per ton, sedangkan kontrak Oktober 2026 naik US$ 0,55 menjadi US$ 136,9 per ton.

Penguatan serupa tercatat di pasar Eropa. Harga batu bara Rotterdam kontrak Agustus 2026 naik US$ 0,7 menjadi US$ 122,95 per ton. Kontrak September 2026 melonjak US$ 1 menjadi US$ 121,95 per ton, sementara kontrak Oktober 2026 terangkat US$ 1,1 menuju US$ 124,45 per ton.

Mengutip data BigMint dan National Bureau of Statistics (NBS), produksi batu bara mentah China pada Juli 2026 berada di angka 343,21 juta ton. Volume tersebut menunjukkan penurunan 9,9% secara bulanan dan merosot 10,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data Mysteel Global mencatat capaian produksi Juli tersebut merupakan angka terendah sejak September 2021, di luar penyesuaian periode libur Tahun Baru China. Penurunan drastis dipicu oleh pengetatan inspeksi keselamatan tambang oleh pemerintah pusat dan daerah sejak akhir Mei untuk memberantas praktik pertambangan ilegal.

Hasil survei Mysteel terhadap 523 tambang batu bara kokas memperlihatkan produksi harian rata-rata hanya mencapai 1,5 juta ton pada Juli. Angka ini menyusut 3,3% dari Juni yang tercatat 1,56 juta ton per hari, sekaligus menjadi rekor terendah harian sejak 2021. Secara tahunan, produksi harian pada kelompok tambang batu bara kokas tersebut anjlok hingga 22%. Penurunan operasional juga melanda 462 tambang batu bara termal dengan rata-rata produksi harian 5,32 juta ton, atau terkoreksi 1% secara bulanan dan 5,4% secara tahunan.

Langkah pemulihan operasional tambang terhambat oleh ketatnya standar keselamatan yang ditetapkan pihak berwenang. Banyak produsen memilih membatasi kapasitas produksi demi menekan risiko kecelakaan kerja. "Pengoperasian kembali tambang yang ditangguhkan masih berjalan lambat karena inspeksi ketat dari otoritas setempat.

Pada saat yang sama, tambang yang masih beroperasi memperlambat produksi untuk mengurangi risiko kecelakaan," ujar seorang analis pasar. Akumulasi produksi batu bara mentah China sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat sebesar 2,7 miliar ton, atau turun 2,9% dibandingkan periode sama tahun lalu. Sementara itu, produksi kokas Juli mencapai 41,35 juta ton, terkoreksi 1,6% dari Juni dan turun 1,1% secara tahunan.

Meski demikian, total produksi kokas kumulatif Januari–Juli 2026 masih membukukan pertumbuhan tipis 1,2% dengan volume 294,2 juta ton. Pengetatan operasi tambang yang berkepanjangan di China diprediksi terus menjaga harga batu bara global tetap tinggi.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed