Harga Batu Bara Dunia Menguat Akibat Krisis Energi China

Smallest Font
Largest Font

Harga batu bara dunia merangkak naik pada perdagangan Kamis (6/8/2026) akibat kecemasan pasar terhadap gangguan pasokan energi global. Dikutip dari Investor Daily, pergerakan ini terjadi saat para pelaku pasar terus memantau dinamika permintaan dari negara-negara konsumen utama.

Pergerakan harga batu bara Newcastle mencatatkan variasi pada beberapa kontrak pengiriman. Kontrak Agustus 2026 mengalami penurunan US$ 0,55 menjadi US$ 128,25 per ton. Sebaliknya, kontrak September 2026 menguat US$ 0,45 ke level US$ 129,75 per ton, dan kontrak Oktober 2026 terangkat US$ 0,5 hingga mencapai US$ 131,55 per ton.

Tren penguatan juga melanda pasar batu bara Rotterdam. Kontrak Agustus 2026 menanjak US$ 0,3 menjadi US$ 116,35 per ton. Kenaikan dilanjutkan oleh kontrak September 2026 yang menguat US$ 0,7 ke posisi US$ 114,75 per ton, serta kontrak Oktober 2026 yang naik US$ 0,9 menuju US$ 116,65 per ton.

Ancaman krisis energi yang melanda China menjadi pemicu utama kecemasan pasar komoditas. Kelangkaan pasokan batu bara memaksa 39 pembangkit listrik di negara tersebut menghentikan aktivitas operasionalnya. Penghentian ini mengakibatkan pemangkasan kapasitas pembangkit listrik nasional hingga sebesar 6,37 gigawatt.

Kondisi kelistrikan makin memburuk akibat dampak bencana alam yang terjadi sebelumnya. Kerusakan infrastruktur yang dipicu oleh gempa bumi di Sichuan serta badai salju pada awal tahun memperparah gangguan pada alur distribusi pasokan energi.

Sejumlah pembangkit listrik yang tersebar di wilayah Hebei, Hunan, Mongolia Dalam, dan Anhui kini berada dalam status kritis. Cadangan batu bara di wilayah-wilayah tersebut diperkirakan hanya mampu menopang operasional pembangkit selama empat hingga lima hari ke depan.

Di Provinsi Sichuan, kerusakan fatal melanda sejumlah fasilitas pembangkit listrik tenaga air pascabencana gempa bumi. Guna menutupi defisit daya, pasokan listrik ke wilayah Sichuan terpaksa dialihkan dari daerah lain.

Juru bicara State Grid Corp of China, Lu Jian, menyebutkan bahwa badai salju pada Januari lalu sempat menyebabakan sekitar 7% pembangkit listrik berbasis batu bara tidak dapat berfungsi. State Grid mengestimasi total kerugian akibat dua bencana alam tersebut menembus angka 20,5 miliar yuan.

Margin Tertekan dan Resiko Operasional Pembangkit

Lonjakan harga batu bara dalam beberapa bulan terakhir menghadirkan tekanan berat bagi para pengelola pembangkit listrik. Di sisi lain, kebijakan pemerintah China yang mempertahankan tarif listrik sejak pertengahan 2006 demi menekan laju inflasi membuat margin keuntungan perusahaan listrik kian tergerus.

Guna menekan potensi kerugian finansial yang lebih dalam, beberapa pengelola pembangkit memilih mengambil langkah berisiko dengan memangkas stok batu bara hingga level minimum. Strategi ini meningkatkan kerentanan operasional, di mana penundaan pasokan dapat seketika menghentikan kerja pembangkit.

Meski mengonfirmasi terjadinya kelangkaan energi di tingkat nasional, Lu Jian menyatakan pihak pemerintah tetap optimistis situasi tersebut dapat teratasi melalui intervensi kebijakan serta penyaluran investasi tambahan.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed