Gempa Magnitudo 6,5 Guncang Sulawesi Utara Akibat Subduksi Cotabato
Gempa bumi dangkal bermagnitudo 6,5 mengguncang wilayah Sulawesi Utara pada Rabu (5/8/2026) akibat adanya aktivitas subduksi di Cotabato Trench. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika merilis lokasi episenter gempa berada di laut pada jarak 186 kilometer arah barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe.
Hasil pemodelan BMKG mengonfirmasi bahwa guncangan yang terjadi pada kedalaman 10 kilometer ini tidak berpotensi memicu gelombang tsunami.
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan, gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault)," kata Direktur Gempa bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto dalam keterangan resmi, Rabu (5/8/2026).
Pusat gempa tercatat berada pada koordinat 5,29° LU dan 125,43° BT. BMKG melaporkan dampak guncangan dirasakan hingga skala intensitas IV MMI di Kepulauan Marore, Miangas, dan Kendahe.
"Gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M6,5 pada kedalaman 10 km. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 5,29° LU; 125,43° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 186 Km arah barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI," tambah Wijayanto.
Skala guncangan tersebut menyebabkan Getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah serta memicu jendela berderik dan dinding berbunyi saat siang hari.
"Artinya, gempa pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu berderik, dan dinding berbunyi," terang Wijayanto.
Hingga pukul 11.40 WIB, BMKG telah mencatat kemunculan dua kali gempa susulan dengan kekuatan terbesar mencapai magnitudo 4,8.
"Hingga pukul 11:40 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 2 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock), dengan magnitudo terbesar M4,8," ujar Wijayanto.
Pemantauan aktivitas gempa di wilayah tersebut terus dilakukan oleh BMKG untuk memperbarui informasi secara berkala kepada pihak terkait dan publik.
"BMKG akan terus memonitor aktivitas gempa bumi susulan serta menyampaikan pemutakhiran informasi kepada stakeholder dan masyarakat," sambungnya.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang serta tidak terpengaruh isu liar, sembari memeriksa kondisi keutuhan bangunan rumah guna mengantisipasi kerusakan struktur.
"Dia mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dan, menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi," tutup Wijayanto.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow