Eks Penasihat Bank Sentral Bantah Ekonomi Iran Runtuh

Smallest Font
Largest Font

Mantan penasihat Bank Sentral Iran membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut perekonomian Teheran berada di ambang keruntuhan. Meski demikian, penutupan jalur perdagangan oleh Uni Emirat Arab diperkirakan tetap memperdalam kontraksi ekonomi negara tersebut hingga 5 persen pada Kamis (20/8/2026), sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Pernyataan tersebut menanggapi ancaman Donald Trump yang berjanji melancarkan isolasi finansial melalui Operation Economic Fury setelah pembicaraan gencatan senjata gagal. Berdasarkan data Bank Dunia, produk domestik bruto Iran telah berkontraksi 2,7 persen hingga Maret 2026 akibat gejolak unjuk rasa dan konflik regional. Selain itu, tingkat inflasi sempat melonjak ke angka 62,2 persen pada Februari 2026, disertai hilangnya sekitar satu juta lapangan kerja.

"Kita harus sedikit berhati-hati terhadap pandangan yang menyebut ekonomi Iran berada di ambang keruntuhan," ujar Mehrdad Sepahvand, mantan penasihat ekonomi Bank Sentral Iran.

Direktur di Daric Investment Group tersebut menilai kondisi di lapangan menunjukkan resiliensi masyarakat dan perbankan yang masih terjaga di tengah tekanan sanksi global.

"Toko-toko masih dipenuhi makanan dan kebutuhan pokok, dan tidak ada tanda-tanda panic buying," ungkap Sepahvand.

Ia menambahkan bahwa stabilitas sektor keuangan domestik tetap terawat walaupun sistem perbankan sempat dihantam gangguan teknis serta serangan siber.

"Meskipun ada ketidakseimbangan serius dalam sistem perbankan dan bahkan serangan siber yang parah, kepercayaan publik terhadap perbankan tidak runtuh, dan kami tidak melihat adanya penarikan dana massal (bank run)," tambah Sepahvand.

Kondisi psikologis masyarakat dinilai belum mencapai titik keputusasaan total meskipun tekanan ekonomi makin terasa berat.

"Meski harapan jelas melemah, hal itu belum sepenuhnya hilang. Jadi situasi di lapangan tidak seburuk yang dibayangkan," tegas Sepahvand.

Tekanan ekonomi baru muncul setelah Uni Emirat Arab menghentikan seluruh transaksi keuangan dan perdagangan akibat insiden rudal balistik di wilayah Teluk. Langkah tegas ini berpotensi memutus akses re-ekspor dan pasokan valuta asing yang selama ini bertumpu pada hub keuangan Dubai.

"UEA adalah salah satu pintu gerbang keuangan utama Iran. Perkiraan kami kontraksi ekonomi saat ini sekitar minus 5%, dan (sanksi UEA) dapat memperburuk situasi," jelas Sepahvand.

Kebijakan AS dan UEA ini berisiko memicu lonjakan harga barang impor serta penurunan daya beli masyarakat Iran dalam dua kuartal mendatang.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed