Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, Daya Beli Kelas Menengah Tertekan

Smallest Font
Largest Font

Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,29 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan II-2026. Angka tersebut melambat jika dibandingkan dengan triwulan I-2026 yang mencatatkan angka 5,61 persen, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat secara akumulatif ekonomi nasional tumbuh 5,45 persen sepanjang semester I-2026. Konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama dengan kontribusi 53,32 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), walau pertumbuhannya melambat menjadi 5,06 persen.

Direktur Pengembangan Big Data Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menilai penopang utama konsumsi nasional masih berasal dari kelompok menengah ke atas. Kelompok tersebut memiliki bantalan finansial yang lebih stabil dibanding kelompok menengah ke bawah.

"Secara kelompok masyarakat, kalau menurut aku sih ini lebih banyak memang ditopang oleh menengah ke atas ya," kata Eko.

Sebaliknya, masyarakat berpendapatan rendah dan kelompok menengah ke bawah langsung merasakan dampak ketika terjadi gejolak ekonomi. Ketiadaan tabungan yang memadai membuat kelompok ini tidak memiliki bantalan finansial saat pendapatan terganggu.

"Tetapi di menengah bawah atau khususnya masyarakat bawah itu kemudian tekanan itu sudah sangat terasa ya. Karena memang ketika ada tekanan ekonomi, ya yang pertama kali terdampak adalah yang tabungannya tipis atau bahkan tidak punya tabungan begitu," ujar Eko.

Kondisi ini memicu penyesuaian pola konsumsi pada kelas menengah. Pengeluaran nonpokok seperti rekreasi atau gaya hidup mulai dipangkas, atau diganti dengan opsi produk yang lebih murah demi menjaga ketersediaan dana cadangan.

"Seperti biasa mereka ngopi, tapi bentuk dari ngopinya itu berubah ya, yang dari kelas premium menjadi kelas biasa. Itu menggambarkan sebetulnya mereka menyiasati pola konsumsi mereka yang secara habit itu sulit berubah, tetapi secara income karena income meeka terganggu ya mereka akhirnya menyesuaikan," jelas Eko.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal. Menurutnya, pertumbuhan konsumsi nasional tidak menggambarkan meratanya kekuatan belanja seluruh lapisan masyarakat.

Data Core Indonesia menunjukkan bahwa 45 persen dari total konsumsi rumah tangga nasional disumbangkan oleh 20 persen kelompok masyarakat berpendapatan tertinggi.

"Secara agregat memang bisa tumbuh 5% apalagi kalau kita melihat bahwa dari total konsumsi rumah tangga 45%-nya disumbangkan oleh 20 persen masyarakat yang paling atas pendapatannya," kata Faisal.

Berdasarkan olahan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS oleh Core Indonesia, porsi penduduk kelas menengah mengalami penurunan dari 21,5 persen pada 2019 menjadi 16,7 persen pada 2025. Sebaliknya, kelompok calon kelas menengah membengkak hingga melebihi separuh total populasi.

"Nah ini berarti dorongan pertumbuhan yang lebih tinggi ini bukan jelas bukan disebabkan oleh calon kelas menengah maupun kelas menengah yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia tapi disumbangkan oleh kelas yang lain," ujarnya.

Tekanan utama yang dialami kelas menengah bersumber dari terbatasnya pertumbuhan pendapatan yang tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup, terutama lonjakan harga bahan pangan.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed