Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen Pada Triwulan II 2026
Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,29 persen pada triwulan II-2026, seperti dilansir dari Investor Daily. Kendati demikian, laju perekonomian nasional dinilai rentan mengalami perlambatan pada triwulan-triwulan berikutnya hingga akhir tahun.
Berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto, ekonomi Indonesia atas dasar harga berlaku mencapai Rp 6.552,1 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan menyentuh Rp 3.576,2 triliun. Capaian ini menjadi landasan untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada akhir 2026.
Juru bicara Partai Gerindra sekaligus anggota Komisi XI DPR RI, Kamrussamad, menilai kinerja ekonomi tersebut menunjukkan kebijakan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto sudah berada di jalur yang tepat. Kebijakan ini dinilai selaras dengan amanat konstitusi untuk melindungi warga dan memajukan kesejahteraan.
Guna mempertahankan tren positif, Kamrussamad menyarankan pengendalian inflasi bahan pangan untuk menjaga daya beli, percepatan hilirisasi industri manufaktur, efisiensi belanja negara, serta perbaikan iklim investasi. Ia juga menyoroti pentingnya sinergi Komite Stabilitas Sistem Keuangan bersama Danantara.
"Kolaborasi ini menjadi kunci utama dalam memitigasi risiko volatilitas global, menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, serta memastikan efisiensi pasokan likuiditas dan pembiayaan bagi sektor riil," ucap Kamrussamad, Anggota Komisi XI DPR RI.
Langkah kolaborasi tersebut didukung optimalisasi UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan serta UU Pusat Finansial Internasional Indonesia guna memperkuat posisi ekonomi nasional.
"Integrasi kebijakan fiskal, moneter, regulasi sektor keuangan, dan kelembagaan investasi ini akan memastikan stabilitas sistem keuangan tetap tangguh sekaligus mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif demi mewujudkan kemakmuran masyarakat Indonesia secara menyeluruh," tutur Kamrussamad, Anggota Komisi XI DPR RI.
Sementara itu, Chief Economist Bank Danamon, Irman Faiz, menjelaskan pertumbuhan triwulan II-2026 sempat tertahan oleh normalisasi pasca-hari raya dan stimulus fiskal. Meski begitu, investasi yang kuat, konsumsi rumah tangga, serta aktivitas konstruksi mampu meredam tekanan ekspor neto.
Irman memproyeksikan perlambatan ekonomi akan semakin terlihat pada semester II-2026 akibat pengetatan kondisi moneter, tingginya biaya pinjaman, dan melambatnya belanja pemerintah.
"Pada saat yang sama, kondisi moneter dan likuiditas yang lebih ketat, biaya pinjaman yang lebih tinggi, serta sektor eksternal yang masih kurang mendukung kemungkinan akan membebani permintaan swasta. Oleh karena itu, kami mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 sebesar 5,2%," kata Irman Faiz, Chief Economist Bank Danamon.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow